LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

"IA YANG BERDIRI LALU “MEMAKI”

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "IA YANG BERDIRI LALU “MEMAKI”


Aku marah saat ia mengatakan hidup sedang tak baik-baik saja, termasuk kalimat sesudah dan sebelumnya. Bukan karena tak setuju dengan statement itu tapi nyeleneh jika disebutkan di depan khalayak banyak dengan sebagian besar berwajah paruh baya bergurat cemas. Kerumunan yang awalnya satu-dua-puluh tiba-tiba saja menjadi puluhan, puluhan, dan berpuluh-puluhan hingga ciptakan sedikit kericuhan. 

Menurutku salah dan itu takkan berkontribusi positif. Setengah seret, kutarik ia ke belakang untuk, akan, dan segera menumpah serentetan kalimat omelan. Kaget dan refleks melepas ronta namun marfhum demi dilihatnya mataku yang menghunjam. 

Tiba di barisan belakang, pemberontakannya muncul dari sentakan keras pada pegangan dan ditambah sepasang mata ganti menatap nanar dengan tanya tak bersuara; apa, kenapa? Tetiba saja, lidah sedikit kelu saat hendak menyemburkan kata-kalimat teguran demi sepasang mata bening yang menempel di wajah putih kekuningan dengan segaris poni lurus di kening dan hidung bangir. Rambut menggerai sebahu. Aku tergagap dengan kemudaan yang terbentuk dari sosok di depanku dan sialnya baru kusadari saat ini; justru saat hendak memarahinya!

“Ada apa, kenapa saya diseret seperti itu, apanya yang salah? Itu mempermalukan saya!”. Aku tak menjawab. Hanya terus menatapi mata beningnya serupa maling kepergok; takut. Ya mungkin ketakutan setelah sebelumnya terpukau. Ketakutan yang muncul bukan saja dari hunjaman mata tajamnya tapi juga nada dari rentetan kata—yang bukan sekedar tanya—serupa dentuman hancurnya harga diri. Sungguh, saya kira tak ada lagi tingkatan amarah yang lebih tinggi karena harga diri yang diserakkan.

“Ayo jawab!”, lebih ke hardikan ketimbang permintaan. Mata itu sungguh menggetarkan.


Saya mengenalnya sebagai bagian dari tim relawan vaksin Covid 19. Bukan untuk cek tensi atau menyuntik karena itu domainnya Nakes tapi lebih supporting untuk hal-hal bersifat teknis-non nakes; mengatur antrian, mengarahkan-aturkan warga yang datang, hingga ke tetek bengek konsumsi dan kebersihan arena. Bukan hal yang sulit sebenarnya tapi juga bukan hal yang remeh temeh mengingat yang diurusin ratusan bahkan pernah tembus 1,500an orang di tengah intaian si virus. 

Karena usia dan sedikit pengalaman, saya pun didapuk untuk mengoordinir relawan muda berusia 22-23an untuk mengurus hal-hal non-nakes tadi meskipun jujur, tak perlu dikoordinir apalagi diajarin pun, mereka udah pada paham apa yang harus dikerjakan karena di hari pertama pra acara sudah berkali-kali dibriefing dan saat ini hari ke-4. Terkait kesiapan pun, haqul yakin karena mereka telah terseleksi.

 

Saya terdiam dengan hardikannya. Mata berputar-putar gelisah sementara matanya terus gantian menghunjam. Menarik nafas, saya coba merangkai kata untuk menjawab dus menjelaskan hal-iekhwal bersebab saya menarik bahkan menurutnya menyeret kasar justru saat ia tengah bicara di depan orang banyak; khalayak yang tengah mengantri dengan kerumunan tak beraturan.

“Bapak tahu gak apa yang tengah saya lakukan? Jangan sangka saya melakukan itu dengan sembrono. Justru sebaliknya, saya mo atur agar mereka tertib, rapi, dan gak heboh seperti itu. Bapak bisa liat sendiri’kan, kayak apa antrian itu padahal berulang kali diingetin!”.

“Iya tapi.....”, belum tuntas kalimat yang akhirnya keluar dari mulut, ia memotong dengen cerocosannya.

“Harus cara apa lagi? Jaga jarak, jaga prokes, sabar, nomor antrian masih banyak pasti kebagian. Teriak- teriak pake TOA, Nah apa lagi?”.

Kugaruk kepala bertopi yang tiba-tiba gatal. Sungguh kemudaannya bikin saya tak berkutik. Ups, maaf bukan karena paras fisik tapi—yang lebih utama—binaran mata yang menyalang penuh antusias, semangat, dan tekad yang kesemuanya terangkum dalam kalimat-kalimat tegas meski mulut tertutup masker.

“Bapak tau gak sih tujuan dari perkataan saya tadi? Kenapa kalimat-kalimat negatif itu saya lontarkan yang bukan amarah tapi ada tujuannya?”. Saya hanya terdiam menggeleng lemah.

“Nah itu, makanya denger dulu. Jangan negatif trus langsung bertindak. Hal itu mungkin salah, mungkin juga benar. Biarkan dulu tunggu hingga selesai. Pahami keseluruhannya, tujuannya, konteksnya, baru ambil sikap. Jangan selalu pake tolak ukur semaunya saja. Era dudha beda


Pantas hoaks merajalela karena orang yang jadi panutan gak bisa bersikap proporsional”, semburnya sambil berjalan kembali menuju barisan antrian yang masih tak beraturan. Duh, saya tergugu. Hanya bisa menatapnya melangkah ringan dengan gerak tubuh yang cerminkan kepercayaan diri; vitalitas anak muda. Ia mengambil TOA dan lantang memekak...

“Bapak, ibu, om tante, kakak. Ayo tertib. Nomor antrian tak didistribusikan jika tidak tertib. Jangan seperti orang yang CXM&$JU@XZ!?!. Covid itu jahat, membunuh, bikin susah, dan mudah menular apalagi untuk bapak ibu, om, tante yang usia tua dan penyakitan. Jangan gara-gara mo vaksin malah kena covid. Udah banyak kematian, kesusahan, penderitaan. Jangan nambah lagi hanya gak mau antri, gak lucu’kan”.

Ayo berbaris, teratur. Ayo...dan...ia terus memainkan kata dan kalimat dengan tegas dan keras sedikit sarkasme menurut saya mah. Berdiri diantara ratusan pengantri yang berkerumun. Ia begitu percaya diri. Ajaib, antrian pun mengurai.


Saya menepi ke tenda, duduk dan coba berkontemplasi atas apa yang terjadi. Sejujurnya, saya mengamini caranya. Ia anak muda dari generasi milenial yang penuh tantangan, ketatnya kompetisi, gejolak, juga kegelisahan. Keserbaadaan sarana prasarana dan kemajuan teknologi untuk memenuhi kebutuhan hidup di satu sisi bisa melenakan di lain sisi adalah tantangan untuk  menaklukkannya. Mereka tak suka digurui tapi juga gak mau menggurui. Mereka hanya ingin diberi kesempatan dan pilihan. Selanjutnya biar mereka yang tentukan!

Maafkan saya, kaum tua yang serba nyinyir, gak mau melihat realitas secara utuh sehingga sering menjudge seenaknya. Ada benarnya juga tudinganmu kalo hoaks kebanyakan muncul dari orang seperti saya. Mengeluh ngenes memalukan diri, saya tepekur. 

Ujar-ujar berkata bahwa kita tidak harus selalu memahami tindakan orang menurut kaidah binari keberpasangan; salah-benar, tawa-tangis mati-hidup hitam-putih, tua-muda, sakit-sehat, bla bla bla. Bahwa ada banyak orang menjalankan keduanya dan selalu ada alasan untuk itu. Bahkan terkadang, tak perlu alasan jika hasil dari apa yang dilakukannya adalah nyata dan berkontribusi positif. Dan saya percaya, kaum muda selalu punya cara untuk menjalani hidup yang bagi orang tua mungkin dianggap bunuh diri karena kita, kaum tua selalu tak sabar menunggu ia menyelesaikan ‘teks’nya.

 

Inspirasi dari melihat dan mendengar orasi gadis muda yang membangkitkan 


Untuk Ananda Khalila Zahra Maharani


Imam Suyudi"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.