LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

We Are Twins

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "We Are Twins

25 agustus 2021


“Mah, aku Pulang!”. Rumah terasa kosong, sepertinya belum pulang kerja. Aku langsung masuk kamar dan melemparkan tasku secara asal setelah itu aku langsung merebahkan diriku dikasur besar miliknya. Seperti hari biasanya, Melelahkan!!. Aku merogoh sakuku dan mengambil benda pipih multi fungsi itu. Hmm… hari ini ulang tahun my twins, dan besok adalah my birthday. 

Mengingat hal itu, aku langsung bangkit dan bersiap menemuinya. Sepertinya, masih ada waktu sebelum mamah dan papah pulang. 

Sampainya disana, aku berjongkok dan sedikit mencabuti rumput diatas gundukan tanah itu. Iya, dia sudah tiada dan tidak ada yang mengetahui hal ini termasuk keluarganya.

“Lia, apa kabar? Hari ini lo birthday kan? Maaf aku jarang ngunjungin lo” aku menghapus setitik air yang lolos dari pertahanan mataku. 

“lo pasti kesepian ya? Maaf juga aku belum bisa nemuin lo langsung”. Aku mulai terisak sendiri dibawah air hujan yang mulai turun. 

“kalo boleh jujur, aku cape, lia. Aku cape  hidup kaya gini” aku menundukan kepalaku dan membiarkan derasnya hujan membasahi tubuhku yang mulai mengigil kedinginan. 

“lo punya keluarga yang super baik dan teman yang banyak, lo pinter, lo ramah, lo berkecukupan, lo disukai banyak orang, bahkan guru-guru selalu muji lo”. Aku mengangkat kepalaku lagi dan menatap ke batu nisan miliknya. 

“Aku ngerasa gak pantes Lia, Aku gak bisa kaya lo dan gak akan pernah bisa! Lia,  aku pengen akhirin ini. Walaupun mungkin nantinya aku bakal kaya dulu lagi ataupun aku bisa aja dipenjara karna nipu orang-orang baik itu!” aku bangkit.

“Maaf Lia, aku ngelanggar janji, aku udah gak kuat nanggung beban ini. Sekali lagi maaf Lia”. Aku membalikan badan dan berjalan menjauh. 


“Astagfirullah Lia! Kamu dari mana? Kok basah gini?” mamah langsung mengambilkan handuk dan langsung memakaikannya padaku. 

Aku tersenyum berusaha menenangkan, “aku tadi habis ke minimarket, minimarketnya tutup malah aku yang kehujanan”. 

“Yaudah, sana kamu ganti baju teru angetin diri kamu minum teh, nantti mamah yang siapin” aku mengangguk dan berjalan kekamarku.


Makan malam, sudah kuputuskan malam ini, aku akan mengungkapkan segalanya. Maaf Lia, mah, pah. 

“kenapa Lia? Makanannya gak enak? Apa mau pesen aja?” mamah menegurku karna dari tadi hanya memainkan sendoku saja. 

“mau papah yang pesenin? Mau apa?” papah kali ini yang bicara.

“enggak kok, mah pah. Lia Cuma agak kenyang” aku tersenyum mencoba meyakinkan mereka.

“ada yang mau Lia omongin?”. Peka sekali papah Lia. “emmhh… ada pah”.

“Saya mau ngomong sesuatu. Tapi sebelum itu Saya mau minta maaf dulu” aku menaruh sendok dan garpu yang dari tadi kugenggam.

“ada apa nak? Kenapa minta maaf?” mamah juga mulai mendengarkanku dengan tatap mata khawatir.

“mah, pah, sebenernya Saya ini bukan Lia anak angkat kalian, nama saya Elie, adik kembar dari Lia anak kalian”. Mamah dan pap-, bukan orang tua angkat dari Lia kembaranku itu terlihat sangat syokk. 

“maksud kamu apa Lia?”. Papah Lia yang bicara.

“maaf om, tapi saya Elie bukan Lia, tolong biarkan saya menjelaskan semua kejadiannya”. Walaupun aku terlihat tenang, tapi jujur saja saat ini aku tengah ketakutan. Takut menyakiti perasaan 2 oraang sosok malaikat bagi Lia.

“Baiklah, coba jelaskan”. Lanjut papah Lia.

“Tahun 2010, tahun dimana om dan tante datang ke panti asuhan dan mengankat Lia jadi anak kalian. saat Lia mau kalian bawa pergi, saya sempat berbisik pada Lia untuk tidak membicarakan saya dan membiarkan hanya dirinya yang kalian bawa pergi. saya  hanya bisa menangis melihatnya pergi.

Tahun berikutnya giliran saya yang dibawa pergi. Bedanya, Jika Lia dibawa oleh sosok malaikat seperti kalian, saya dibawa pergi satu orang brengsek yang tidak memiliki hati Nurani.

Bertahun-tahun lamanya saya dipukul, ditendang tidak diberi makan dan pakaian yang layak. Rupanya dia mengangkat saya supaya ada yang terus memberinya uang. Iya, saya yang bekerja dan memenuhi si brengsek itu. 

Hingga akhirnya setelah sekian lama, saya bertemu lagi dengan Lia.  Hhh… menyedihkan, dia melihatku dalam keadaan menyedihkan. Dia langsung meluk saya” aku memberi jeda untuk menghapus air mataku yang  lolos begitu saja.

“Cihh… anak itu! Dia sudah memakai baju bagus malah meluk saya yang hanya memakai kaus oblong penuh oli” aku tertawa kecut.

“setelah pertemuan kecil itu, kita berdua sering bertemu untuk sekedar mendengarnya bercerita tentang kalian berdua beseerta temannya. Iri? Tidak. Saya justru lega karena dia punya kehidupan lebih baik dari pada saya. 

Suatu hari, diam-diam Lia mengikuti saya pulang dan melihat si brengsek itu yang lagi mabuk dam mukul saya. Lia langsung nerobos masuk dan narik saya keluar rumah itu. Saya kaget, mengapa dirinya datang. Lia meluk saya dan nangis.

Dia ingin bawa saya ke kalian dan hidup Bersama, tapi saya nolak. Saya takut kalian membagi cinta kalian ke Lia dan saya. Saya ingin dia menerima seluruh cinta kalian. Gapapa, saya ikhlas.

Dia jengkel dan pergi begitu saja. Malamnya…” aku menunduk dan membuang napas kasar.

Rumah sakit menelpon saya dan bilang Lia kecelakaan dan dirawat”. “Lia kecelakaan?” mamah Lia terisak dan papah Lia kaget tak menyangka Lia pernah kecelakaan.

“tolong dengarkan cerita saya dulu. Iya Lia kecelakaan, dan saya pun tidak tahu apa yang dia alami. Malam itu saya datang dan ngeliat dia dengan seluruh selang yang menusuk tubuhnya. Saat sadar dia minta tolong kepada saya”. Aku bernapas kasar lagi.

“dia menyuruhku berjanji untuk hidup menjadi ‘dirinya’. Menjadi Lia, menjadi anak om dan tante, dan melupakan Elie, melupakan identitas saya.

Bahkan sebelum saya menolak, dia terus mengucapkan kata janji pada saya dan akhirnya saya terpaksa setuju. Dan disinilah saya berada Menjalani hidup sebagai Lia”.

“dimana Lia sekarang? Dia baik-baik ajakan?” mamah Lia bertanya dalam tangisnya yang belum mereda.

“maafkan saya, tapi setelah mengucapkan janji itu, Lia dipanggil”. Aku mulai berkaca-kaca lagi dan mam papah lia tambah syokk. Papah lia bersandar di kursi tak percaya dan mamah lia makin Terisak.

“Maaf om, tan. Saya gagal. Besok saya antar kalian kerumah baru Lia. Sekali lagi maaf om”. Aku nangis sejadi-jadinya. Dan mereka pun tak ada yang sanggup menjawabku.

Aku menyesal, mengapa aku harus bertemu dengannya? Mengapa dia harus melihatku dalam keadaan menyedihkan? Mengapa dia harus mengikutiku pulang? Mengapa dia harus dipanggil secepat ini?. 

Aku.. aku merasa malu didepan orang tuanya. Bahkan aku malu pada diriku sendiri. Sungguh tidah berperasaan saat dia dipanggil dan aku malah mengambil hidupnya dan menikmati semua ini sendirian.

Maaf Lia, aku tidak bisa menepati janji, maaf lia, aku gak bisa jika harus terus membohongi mereka. Maaf lia.


Malam itu berakhir tanpa ada pembicaraan lebih lanjut mengenai Lia. Mereka berdua masih syok dan diriku yang masih merasa bersalah.

Paginya kita berangkat menuju peristirahatan terakhir Lia. Kedua orang tua lia mematung didepan batu nisannya tak percaya. Sungguh, saat ini aku merasa menjadi mahluk paling jahat. Rasanya aku tak sanggup melihat mereka berdua. 

Setelah cukup lama mematung, akhirnya mereka berdua mendekati gundukan tanah da mulai menangis lagi. Aku menjauh dari mereka dan memberi ruang bagi mereka dan putri kesayangannya. Aku tak sanggup rasanya melihat semua ini. Aku merasa paling jahat, dan itu memang benar. Aku memang jahat.


Dalam perjalanan pulang, papah Lia memanggilku “Elie”. Dengan nama asliku. “iya om?”.

“kamu laper?”. Ada apa ini? Bukankah seharusnya mereka berdua marah? Mekulku atapun melaporkanku kepolisi karna telah menipu mereka?. 

“jangan takut Lie, kita gak marah sama kamu” kali ini mamah Lia yang bicara dan tersenyum padaku.

“om sama tante kenapa gak marah sama saya? Harusnya om pukul saya, saya udah jahat om. Tante harusnya lapor polisi, karna saya nipu om sama tante dan pura-pura jadi lia. Om sama tante gak perlu ngerasa kasian, saya udah biasa dipukul dan saya gak keberatan dipenjara. Karna saya udah jahat”.

“tapi itu bukan yang Lia maukan? Dia ingin kamu hidup Bahagia walau cara dia menjadikanmu dirinya  yang lain. Dia ingin kamu merasakan apa yang dia rasakan dari dulu. Bahkan disaat terakhirnya dia mikirin kamu”. Aku nangis lagi. 

“Elie, mulai sekarang ayo kabulkan keinginan Lia, tapi kamu harus hidup dengan identitasmu. Lia anak yang baik, sangat baik malah. Kami sangat sayang padanya, dan dia sangat sayang padamu. Kami sedih belum sempat melihat Lia yang terakhir kalinya, tapia pa boleh buat? Itu sudah garis takdir Allah. Kamu jangan merasa bersalah, dia ingin kamu hidup Bahagia, inget itu Elie”. Kata-kata Papah Lia makin membuatku menangis. Memang benar kata Lia, mereka berdua adalah orang yang sangat baik.


Hak asuhku berpindah dan orang brengsek itu dipenjara karena melakukan kekerasan padaku, Kematian Lia telah dicatat secara resmi, dan aku sekolah disekolah yang sama. Teman-teman Lia sungguh terkejut. Beberapa ada yang membullyku dan mengataiku mencuri identitas Lia, it tak sepenuhnya salah. Tidak apa, aku bisa urus itu. Walaupun aku tidak sepintar dan seramah Lia, tapi Itulah akhir ceritaku, dan kini aku hidup dengan namaku, Elie.

Tamat."


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.