LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

SEPTEMBER MENOLAK LUPA

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 SEPTEMBER MENOLAK LUPA

Cerpen karangan : Lilis Sriwintasya


     Pagi ini, hujan turun begitu deras, sederas air mata ku semalam. Ku buka jendela kamar ku untuk menikmati aroma khas hujan. Sembari menikmati hujan, aku teringat akan seseorang, yang dimana setiap kali aku melihat hujan aku seolah memutar memori tentangnya. Memori yang berisi begitu banyak kenangan. Kenangan yang selalu ku usahakan untuk tak lagi ku ingat. September tahun lalu harapan kebahagiaan bukan lagi hanya dariku melainkan juga keluar dari haturan do'anya. 

     Dia adalah sesosok pria yang selalu ada untuk ku dalam keadaan apapun. Tutur katanya, cara berpikirnya, tanggung jawabnya, aku merindukan semua itu. Tapi apalah daya, dia bukan lagi milikku. Dulu, kami pernah mengharapkan waktu yang indah itu datang. Dia pun pernah menjanjikan kebahagiaan. Dia seakan membawa ku terbang ke angkasa sebagai sayap pelindung ku. 

     Namun suatu ketika, cita-cita membuat cinta kami berjarak. Aku harus melanjutkan pendidikan yang jauh dari jangkauannya. Awalnya hubungan kami masih seperti biasa. Cinta dan kasih sayang masih sama. Komunikasi seolah tak berhenti, chat, video call selalu berjalan lancar. Meski berjarak, dia tetaplah tempat ku bercerita, tempat ku mengadukan semua keluh kesah ku. Begitu juga dengan dia, aku seolah menjadi satu-satunya telinga ketika ia bercerita. 

     Namun semua keindahan, semua kebahagiaan, lamanya kebersamaan itu berubah. Komunikasi tak lagi lancar. Dia tak pernah mencariku, bahkan sangat ingin melepasku. Dari situ aku sadar akan semuanya. Disana ada wanita yang lebih menggoda dariku. Meski aku tahu perihal itu, aku tak apa walau tersiksa. Pikirku, akulah yang akan menjadi satu-satunya wanita di hidupnya kelak. 

     Setiap hari aku selalu melihat postingan foto mereka berdua. Namun aku mencoba untuk tetap terlihat baik-baik saja. Tapi tidak dengan wanita itu. Wanita itu semakin merebut kekasihku, dia tak sadar bahwa aku telah berusaha untuk bersabar dalam menghadapi sakitnya pengkhianatan. Aku mampu bersaing dengan wanita itu, tapi aku tak mampu menolak keputusan dari kekasihku. 

     Besok adalah waktuku menghadapi sidang skripsi. Aku membuka ponselku dengan maksud memberi kabar pada kekasihku. Akan tetapi aku hancur, kekasihku memberiku kabar bahwa dia akan melamar wanita itu. 

“Untukmu kekasihku, maaf untuk kisah yang pernah indah ini. Aku memilih untuk mengakhiri kisah kita. Besok aku akan melamar wanita itu. Terima kasih telah menemaniku. Terima kasih telah menjadi satu-satunya telinga ketika aku bercerita. Semoga kelak kamu menemukan pria yang lebih baik dariku. Maaf untuk segala maaf”

    Seketika aku hancur, namun aku tak rela melepasnya. Bagaimana mungkin aku rela melepas seseorang yang telah mengajakku berjalan sejauh ini. Bagaimana mungkin aku melupakan semua janjinya. Bagaimana mungkin aku melupakan harapan yang sempat kita lafalkan bersama. 

    Janji yang dulu terucap jelas telah, menjadi kalimat yang tak lagi berarti. Dia telah benar-benar pergi. Sekarang kamu telah menjadi sepasang asing yang mengetahui rahasia masing-masing. 

    Tiba saatnya aku sidang skripsi. Aku menjalani sidang dengan mata sembab karena menangis semalaman. Demi cita-cita aku tak apa. Kutinggalkan sejenak tentang cinta. Kututup lembaran-lembaran yang lalu tanpa membuka lembaran baru. Aku terlalu mencintai seseorang hingga aku hancur separah ini. 

    Aku sungguh merasakan sakitnya sebuah pengharapan. Merasakan kekecewaan yang mendalam. Dan aku hanya bisa diam ketika orang sekitar bertanya perihal tentangnya. Bukan karena tak memiliki jawaban,  hanya saja jika harus mengatakan yang sebenarnya, aku takut mereka membencinya. Cukup aku saja yang tahu. Biar aku saja yang terluka. Dan biar aku saja yang jatuh kecewa. 

    September kembali menyambut ku dengan perasaan yang masih tetap utuh. Harapan yang ku genggam erat harus ku lepas dengan berat. Sebuah rasa yang ku simpan rapi harus ku bunuh dengan separuh hati. Ku perjuangkan sekuat yang ku bisa untuk menghapus kenangan tentangnya. 

    Sungguh aku tidak bahagia. Bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika sakit hatiku belum menemukan titik sembuh. Dia memang seperti senja yang datang sejenak menyuguhkan keindahan lalu pergi menyisakan ketiadaan. Dia pun bagai rintik hujan yang datang tanpa suara, masuk tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. 

    Perlahan aku mulai menghilangkan perasaan itu. Walau sebenarnya perasaan itu tak benar-benar hilang. Aku hanya menguburnya bersama kenangan, yang sesekali ku luangkan waktu untuk sekedar mengenang. Aku menjadi seorang yang pandai berdrama, aku sungguh tampak bahagia meski nyatanya malamku masih dihiasi dengan air mata. 

   Sekarang pergilah. Kepergianmu sudah bisa ku terima. Aku harus bahagia. Aku tak perlu bersusah payah berdrama. Tak perlu ku katakan bahwa aku ikhlas. Pergilah dengan perasaan bohongmu. Dulu ku kira berjalan sejauh ini denganmu akan berujung manis, namun nyatanya teramat sangat sadis. 

    Namun aku tak berhak membencimu, membenci wanita itu, bahkan membenci diriku sendiri, sekalipun aku marah pada diriku saat ini. Aku sadar, luka ini aku yang buat. Andai waktu itu aku melepasmu terlebih dulu, mungkin cinta ku tak sedalam luka ku. Terima kasih telah hadir. Maaf untuk segala maaf. 


"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.