LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Hard Work Never Disappoints

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 " Hard Work Never Disappoints


Namaku Naomi Princessa umurku 12 tahun. Aku seorang siswa yang baru masuk SMP. Di awal aku masuk SMP aku sudah bertekad untuk menjadi siswa ambis agar nantinya menjadi siswa eligilble dan lulus SNMPTN. Aku belajar dengan sungguh-sungguh dan membuat waktu produktif agar aku tidak bingung nantinya. Setiap semesternya aku mendapat nilai yang sangat bagus dengan meraih Juara satu umum setiap kali pengambilan rapor. Namun usahaku tidak mengkhianati hasil. 

Setelah tiga tahun aku tamat SMP. Aku lulus di salah satu SMA favorit yang berada di daerah tempat tinggalku. Kejadian yang sama terus aku ulang kembali untuk menjadi yang terbaik. 

Setelah enam tahun aku menyelesaikan pendidikanku di SMP dan SMA, Rasanya belajar hingga larut setiap malamnya demi menggapai cita sangat berarti buatku. Dan kini usia ku 17 tahun, impianku menjadi kenyataan sekarang aku menjadi seorang siswa eligible dan baru saja diterima di Suatu Universitas ternama melalui jalur SNMPTN.

Di pagi hari yang cerah aku berangkat ke bandara, untuk melanjutkan pendidikanku. Dengan berat hati aku meninggalkan Ibu dan Nenekku. Karena dari kecil aku tidak terbiasa hidup tanpa mereka, namun demi masa depan aku harus mandiri dan pergi ke kota orang. Setibanya di bandara. “Nanti kamu disana hati-hati ya, jangan lupa shalat lima waktunya, mulailah hidup mandiri, jadilah anak yang sukses dan cerdas, buat ibu dan nenek bangga dengan kesuksesannmu” kata ibu dengan airmata yang jatuh di pipinya. “iya bu, aku janji” kataku lirih.

Sesampainya di kota tujuan, aku langsung dijemput oleh Paman dan bibiku yang tinggal di kota itu. “Naomi, ayo naik” kata bibiku sembari membuka pintu mobil. Aku naik ke mobil paman dan di dalam mobil kami bercerita dan tertawa ria bersama. Sesampainya di rumah paman, aku diberikan kamar yang sangat luas dan sangat cantik.

Saat malam harinya, di ruangan kamarku yang sangat luas, aku tengah memikirkan membayar uang kuliah tunggal (UKT) yang harus segera ku bayar sebelum masuk ke Universitas impianku itu. Tidak lama kemudian Bibi memanggilku untuk makan malam. Saat di meja makan, “Kok Naomi melamun, lagi mikirin apa sayang?” kata paman membuka pembicaraan. “Kalau kamu mau apa-apa bilang saja ke bibi” sambung  bibi. “Ini kunci mobil untuk kamu pergi kuliah ya, uang bensin dan uang jajan kamu paman kasih perbulan” kata paman lebih lanjut. “Dan untuk biaya uang kuliah besok kita ke kampus kamu ya, dan kita lanjutkan pergi shoping bersama dan pergi ke salon” sambung bibi. “kalau kamu mau apa-apa jangan sungkan, bilang aja ke bibi atau paman karena kami akan memenuhi apa yang kamu inginkan, karena selama ini kami belum dikaruniai anak dan hanya kamu satu-satunya keponakan kami” kata paman.

Keesokan harinya saat aku ingin membayar uang kuliah bersama bibi, aku sangat kagum melihat universitasku yang sangat megah dan luas itu. Sepulang membayar uang kuliah bibi langsung mengajakku shoping ke mall. bibi membelikan Pakaian, Alat Make-up, dan Alat tulis yang sangat banyak. Rasa syukur memenuhi kalbuku saat itu. Karena sebulan lagi kuliah akan di mulai, aku mencoba mencari tahu mata kuliah apa saja yang akan ku pelajari nantinya, sehingga aku dapat menjawab semua pertanyaan dosen nantinya.

Sebulan kemudian, saat kuliah di mulai, aku memasuki ruangan kelas yang sederhana dan elegan itu. Disana Dosen memberikan banyak pertanyaan mengenai Ilmu Ekonomi, dari sekian banyak pertanyaan yang diberikan hanya aku dan seorang lelaki yang duduk tepat di belakangku yang dapat menjawabnya. Setelah mata kuliah selesai, aku ingin bergegas pulang ke rumah bibi. Saat aku ingin masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba lelaki tadi menarik tanganku dan mengajakku ke taman kampus, tanpa berkenalan. Sesampainya di taman kampus dia mengajakku berkenalan “Nama gue Arraffa Rizky Alexandra, panggil aja gue Rizky” katanya sok cool. “Namaku Naomi Princessa, panggil aja Naomi” jawabku lembut. “Gue anak komite terbesar di kampus ini, banyak cewek yang ngejar-ngejar gue, gue gak suka itu” Katanya lebih lanjut. “Lah terus urusannya sama aku apa?” kataku heran. “gue mau lu jadi pacar pura-pura gue, biar gak ada yang gangguin gue lagi” dengan nada kasar. “Kenapa harus aku?apa gak ada cewek lain?” Jawabku dengan sabar. “karena gue mau nya Cuma lu, lu tipe gue banget, udah cantik, pintar, baik lagi” katanya penuh emosi. “Rizky suka sama Naomi?” tanyaku lugu. Dia terkejut dan mengalihkan pembicaraan. Dia meminta nomor WhatshApp ku dan dengan lugunya aku memberikan nomorku padanya. Sejak saat itu setiap hari dia ngechat aku untuk menanyakan segala sesuatu yang nggak penting. hingga ia jatuh hati karena kesabaranku menghadapi egonya yang terlalu besar. Dan ia beberapa kali meminta aku untuk menjadi pacarnya, aku gak pernah mau menerimanya karena aku sudah berjanji pada ibuku dan diriku sendiri kalau aku gak akan pernah pacaran hingga aku sukses dan membahagiakan ibu nanti, dan karena itu aku selalu menolaknya dengan kata-kata yang sopan agar tidak menyakitinya.

Hari berganti Minggu dan Minggu berganti Bulan dan Bulan berganti tahun. kini tiba saatnya  aku Sarjana. Disaat ini aku di temani oleh Ibu, Paman dan Bibi. Alhamdulillah aku mendapat Cumlaude dengan IPK 4,00. Ibuku sangat bangga kepadaku. Selain itu aku langsung mendapatkan panggilan pekerjaan untuk bekerja di Bank Indonesia dengan jabatan sebagai pimpinan cabang Bank Indonesia di salah satu daerah. Setelah selesai acara rizky mendatangiku dan membawakanku sebuah bucket bunga dan satu cincin berlian yang sangat mahal. Dia melamarku di hari wisuda kami dan di depan seluruh orang yang ada disana saat itu termasuk di depan kedua orang tuanya yang menyaksikan kelulusan sarjana kami saat itu. Aku sangat terkejut dengan semua ini. Hal yang tak pernah ku bayangkan sama sekali tiba-tiba datang kepadaku dengan sangat indah. Aku menerima lamarannya dan Sekarang aku percaya bahwa setiap usaha yang kulakukan pasti akan membuahkan hasil. Seperti pribahasa ‘Apa yang kau tanam itulah yang akan kau tuai’. Untukku pendidikan selalu menjadi prioritas terpenting bagiku. Dan beribadah adalah hal yang harus dinomor satukan di dalam hidup ini. Tak ada yang dapat membantu kita selain Tuhan yang maha kuasa dan diri kita sendiri. Tetap selalu berusaha dan berdoa. Karena tanpa berdoa juga tidak baik nantinya. Tetaplah semangat menggapai cita. Banyak hati yang harus kau banggakan saat ini. Dan jangan pernah membuat hati itu hancur dengan kegagalanmu.

"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.