LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Kembalikan Ayah Ku

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "Judul: Kembalikan Ayah Ku

Oleh: Abdul Wahid, S.Pd.


Sinopsis


Seorang anak yang kehilangan Ayahnya selama 12 tahun, kisah hijrah dan asmara dalam mencari seorang ayah yang dia rindukan, selama 12 tahun belum mendapatkan kabar baik tentang ayahnya sampai 

 anak kecil itu sudah mempunyai suami dan 3 orang anak. 


""Kembalikan Ayah ku""


  Ditengah perjuangan hidup, harapan akan datang kebahagiaan dalam diri keluarganya. 

""Hayati"" seorang anak 11 tahun berjuang untuk keluarganya, dengan tangan lemahnya dia berpura-pura menjadi kesatria tangguh nan kuat.

  Ditengah kesibukannya di sekolah ""hayati"" sebelum ganti seragam putih merahnya dia sudah kewarung untuk membungkus dagangan tetangganya. Setiap hari dijalaninya tanpa keluh kesah, dimana yang lain teman sebayanya bermain-main.

Yat... ayoo main...

Heeummmm.... hela nafas....

 "" Cari duit buat beli beras.. 

kasihan emih."" Gumam hayati.

Selain bekerja sama tetangganya dia juga selalu mencari kayu bakar buat ibunya yang selalu dihina oleh orang tuanya sendiri. Alih-alih ibu hayati telah menggunakan kayu bakarnya, pantas saja kayu bakar di belakang cepet habis? kamu rinah yang sering pake. timpa nenek hayti, cari sendiri coba sana. 

Heeummmmm.... tarik nafas...

""Ibu hayati saat itu sedang hamil tua.""

  Esok harinya hayati beraktifitas seperti biasa sekolah, bekerja dan mencari kayu bakar. Adzan ashar telah berkumandang, matahari sudah menunjukan sinar jeemasannya.. hayati bergegas merapihkan kayu bakar yang telah ia kumpulkan. 

"" Tarno ayoo pulang.. saut hayati""

   Udah ashar.""

  ""Iyaaaa tanggung.. bentar. Timpa Tarno""

Kayu bakar ditaruh di belakang sepeda mereka. Sambil bercerita dan merencanakan lanjut mencari kayu bakar ""Besok kita cari di kebon tebu ajah yu"" .

  Sesampai di rumah, bencana terjadi dengan dahsyatnya. Adik dari ibu rinah bertengkar hebat, mencacimaki ibu rinah, yang sangat tidak pantas didengar seorang anak, lelaki yang kesetanan itu menyeret rambut ibu rinah dari ruang tamu sampai dapur ""sraaaaaak"" ...Sakit dip tolooong... tooong..., plak.. plakk... "" dipukul "" ditendang dan diinjak. Seorang ibu paruh baya itu hanya pasrah menangis darah di hatinya. ""Ampuuuun.....""

 Terguncang jiwa hayati. Ia tidak bisa berkata-kata hanya terpaut diam di pelataran depan rumahnya. Air mengalir membasahi hati kecilnya ia terus menangis, berteriak, meronta dalam jiwanya. 

Hayati berdiri kaku melihat ibunya disiksa  beserta adik dalam pelukannya.

"" emiih....""

"" emiih.....""

***

""Kelahiran Aysah""


Dua bulan kemudian lahir adik bungsu hayati, ternyata bekas siksaan dari lelaki yang kesetanan itu membekas pada bayi mungil yang cantik itu, kepala serta seluruh tubuhnya lebam-lebam "" Seperti mahluk asing "" 

Terasa tersayat seorang ibu yang mengandung dan seorang ayah yang menjaganya melihat buah hatinya seperti itu kondisinya.

""Nduk anak ibu yang cantik, yang sholehah anak ibu cantik ko, sembuh ya na yah"" gumam ibu rinah sambil menepuk-nepuk kepala dan bagian yang lebam lainnya.

Beberapa hari kemudian hayati menjalani rutinitas seperti biasa. 

Ayah pergi kesawah mengayuh sepeda dengan cangkul dibelakangnya, 

Salah satu pahlawan keluarga yang tidak pernah menyerah adalah Ayah. Berkat keringatnya, istri dan anak-anaknya bisa tidur nyenyak dan makan enak. Sepulang kerja ayah Adi membawa seonggok jagung

Ayah: hayatiii.....sini na bantu ayah

Hayati: iyaaa yaaah...

Ayah: naa.. Alhamdulillah hari ini ayah dapet rezeki.

Ibu Rinah: dapet dari mana itu, ambil dari kebon orang ya..."" sambil memaki""

Kita orang susah kita miskin tapi jangan jadi maling.

Ayah: ngga ini dapet dikasih, sama pak Cartim "" yang punya kebun jagung"".

Ibu Rinah tiba-tiba teranjak dari dudknya dan pergi menanyakan ke pak Cartim.

Toook....Toook.....Asalamualaikum

Ibu Rinah: pak suami saya dapet jagung sebanyak itu dari bapak? Ngga dapet ngambil kan?

Pak Cartim: iyaa tadi si Adi bantu-bantu bapak panin jagung, jadi bapak kasih dia jagung bukan ngambil.

Ibu Rinah pergi dengan merasa bersalah sama suaminya.

Sesampai di rumah...

Ibu Rinah: Ayah..cape yaa... mau dibuatin minum apah.

Sambil senyum-senyum bersalah...


***

""Penghinaan pahit""


7 bulan usia adik bungsu hayati,kini keadaan kluarganya makin tidak baik baik saja.

Karena kemiskinan,mereka di cemooh di hina bahkan neneknya  berani mengusir ibu dan adik adiknya dari rumah.

diusir dan dipaksa bikin rumah secepatnya, sampai nenek hayati berani melempar baju bersih baju kotor bahkan sepatu dalam 1 karung.

Alhasil keluarga hayati meminjam kesana kemari,mengetuk pintu demi pintu hanya untuk meminjam uang sampai matrial untuk bikin rumah. Setelah banyak yang ngasih hutang,alhamdulillah rumahpun bisa di bangun seadanya.

Tak lama pada usia adik bungsunya beranjak umur 9 bulan. Ayah hayati pergi meninghalkan rumah 

Ayah hayati tak terima kluarga istrinya lalu menghina nya termasuk orang tuanya.

Sebelim pergi pada saat itu hayati umur 12 tahun,tepatnya baru masuk kelas 6 SD.

Ayah hayati berpesan..

Ayah: nduuk kamu itu anak Ayah yang paling besar,yang kuat yah nduk,jaga ibu dan adik-adikmu, jangan bikin mereka nangis, Ayah pergi nggak akan pernah kesini lagi.

 Sejak saat itulah hayati beserta ibu dan adiknya menjalani hidup barunya tentu tidak bersama ayahnya. Ayah yang ia cintai, yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Pergi tanpa pelukan hangat untuk terakhirkalinya. Hanya sebuah pesan dan tanggung jawab baru yang disematkan kepada hayati si anak sulungnya.


***

Lulus Sekokah Dasar


Hari kelulusan sekolah pun tiba. Guru mengumumkan kelulusan di depan kelas.

""Selamat pagi murid-murid...""

""Pagii paaaaaaak......""

""Hari ini dimana hari kebahagiaan sekaligus ketegangan yah""

Mengeluarkan map yang berisikan hasil ujian sekolah beserta berita kelulusan murid-muridnya.

"" horeeeee..... horeeeee....""

Bergemuruh di dalam kelas.

""Kita Lulus....""

""Kita Lulus...""

Kelas telah dibubarkan.

Salah seorang temannya memanggil hayati.

""Yaaat.. yaaat..""

"" emmmmm..."" sahut hayati.

""Eh.... kamu mau lanjutin kemana..?""

""Belum kepikiran..""

""Ke SLB ajah cocok buat kamu"" grutu salah satu temannya.

Jleeeeeb.... hati hayati begitu sesak...

Pak yono memanggil hayati.... guru wali kelasnya.

""Yaat.... sini!""

""Iyaaaa pak...""

Kaki melangkah tanpa pamit.

""Asalamualaikum... ada apa yaaaah pak pnggil saya""

""Gini yaat.. kamu kan murid terbaik di kels nilai kamu di Rapot juga bagus-bagus,

Ada beasiswa buat kamu.

Rasa campur aduk bergelut dihati, antara kebahagiaan dan ketakberdayaan.

""Cumaan tidak sepenuhnya masuk gratis yaat... kamu cari biaya buat pendaftaran masuk ajah sisanya dari sekolah sampai dapet sepeda juga.""

""Iya.. pak nanti saya bicarakan dulu dengan ibu saya""

Jam pulang sekolah

""Took.....Toook....Took...

Ibu Rinah mendengar suara pintu terbuka

""Kreeeeeek"" 

""Asalamualikum...miih...""

""Waalaikumsalam...""

Melihat anaknya terasa gelisah dalam raut wajahnya bu Rinah tidak menanyakan langsung Ada apa, kenapa?

Menyiapkan makanan dan minuman buat anak sulung nya.

"" Makan nduuk...""

""Miih.. tadi aku dipanggil sama pak Yono guru ku, kata pak Yono aku dapat beasiswa masuk SMP tapi tidak semua. Cukup bayar buat masuk pendaftaran ajah..""

Menangis......

""Aku pengen kaya temen-temen bu lanjut sekolah.""

Tadi ada yang kata-katain kamu pantasnya masuk sekolah SLB..."" 

Peluk ibu Rinah....

Garis benang merah muncul ( Fajar ) 

Adzan berkumandang...

Ibu Rinah berangkat untuk mengais rezeki di kebon tebu yang jaraknya 1 km dari rumahnya.. ia berjalan menunggu mandor dan pekerja lainnya.

Waktu pendaftaran masuk sekolah telah tiba, namun uang yang di kumpulkan ibu Runah belum cukup karena sisanya but kebutuhan sehari-hari mereka.

Mau ngga mau ibu rinah meminjam kesaudara-saudaranya namun tidak ada satupun yang hendak meminjamkannya.

Dengan kecil hati ibu Rinah pulang... dengan tangan kosong,

""Nduk... suatu saat nanti kamu sukses tanpa mengenyam pendidikan lebih tinggi..

Hayati hanya menunduk...


***

 ""Mimpi disiang bolong""


Terganjal masalah ekonomi orang tuanya,terpaksa mengurungkan keinginan seorang anaknya untuk tetap bersekolah minimal hingga sekolah menengah atas. Namun cita-cita Hayati bak mimpi di siang bolong. Sebab, dia dikekang oleh keadaan orang tuanya yang mengharuskannya bekerja. Hal tersebut benar-benar membuat Hayati kehilangan kebebasannya sebagai seorang anak dengan kewajiban belajar di sekolah.

Sebelum ijazah terbit, ia sudah melangkahkan kaki nya ke ibu kota untuk bekerja sebagai ""ART"" 

"" Nduk... hati-hati di sana.."" dengan bibir bergetar nahan tangis begitu berat untuk diterimanya.

"" iyaaa miih.. doain Hayti semoga dapt melunasi hutang-hutang kita bekas bikin rumah"" ujar Hayati.

""Nduk maafin emiih yaa.. emih ngga bisa memenuhi harapan mu untuk sekolah.""

Tangis seorang ibu pecaah...tak sanggup menahan kepedihan hatinya..

Teruss memeluk Hayati seakan enggan melepaskan dia pergi...

""Kamu baik-baik di sana yaaa nduk..."" jaga kesehatan hati-hati kalo kerja"" 

Hayati memasuki mobil yang menghantarkan dia ke ibu kota serta beberapa orang lainnya.


***

Pagi dilangit  Jakrta Hayati berusaha tegar dan kuat untuk melangkahkan kakinya turun dari mobil yang mengantarnya.

"" Naaa... ibu antarkan kalian ke tempat masing-masing ya untuk menemui majikan kalian"" ujar seorang yang bekerja di bidang jasa penyaluran ART.

Beberapa jam kemudian tiba Hayati ditempat ia bekerja, Rumah gedong yang berlapiskan cat putih bersih. Ia bekerja di keluarga caines. 

""Ini yang akan bekerja di rumah saya"" dengan cudes bertanya...

""Iyaa bu... ini anaknya yg akan bekerja di rumah ibu untuk saat ini."" 

""Masih kecil yaaah... apa ga ada masalah...""

""Ngga bu memang dia badannya kecil, tapi dia terampil untuk bekerja."" Sahut pegawai yayasan itu.

""Okee"" ......dengan heran

Ibu dari keluarga caines itu bertanya-tanya dalam hatinya, ""anak sekecil ini sudah bekerja, gimana sekolahnya"".

Dimasa percobaan Hayati selalu memberikan yang terbaik demi mendapatkan kepercayaan majikannya. 

Dengan tangan mungilnya ia bekerja keras namun sudah terbiasa Hayati menghadapi pekerjaan seperti itu.

"" Aku harus tetap bekerja di sini saya harus dapt kepercayaan dari ibu majikan ku"" gumam hayati..

""Aaaaahh...."" lelah sekali 

""Wuusss..wussss... menyapu, mengepel, beres-beres rumah segede istana.

Tiba di kamar majikan, Hayati bebenah dikamar tidak di sangka di meja hias berserak Emas serta tumpikan duit...


""Masyaa Allah... ini uang sama emas sembarangan naronya.. "" ujar hayati.


Ada rasa segan untuk memindahkan semua perhiasan di atas meja. Hayati selalu ingat perkataan ibunya.


"" Nduuk.. kalo bekerja di rumah orang kaya jangan panjang tangan yah, jangan sembarangan memegang barang-barang yang sakral, biasanya orang kaya itu akan menguji kejujura  pembantunya dengan meletakan barang berharganya di sembarang tempat..""

Hayati setelah bebenah di kamar majikannya baru selesai sudah di panggil lagi.

"" yaaat.....hayatiii...."" kemari....

Teriak bu lingling.....

Hayati segera menghampiri, ""Ada apa non"".

Lingling"": aaaaahh....gue sudah liat kerja lu beberapa hari ini, kerja lu bagus, rapih, bersih. Gue juga sudah liat kejujuran hati elu... tadi saya mantau eluu di cctv ada barang berharga gue di meja tapi elu tidak memegang nya sama sekali. Gue suka orang kaya elu..,

Eluuu... tetap kerja sama guee tapi jangan kecewakn guee yaaa...

Hayati: iyaaa non,.. insyaa Allah saya akan menjaga kepercayaan enon.


Beberapa bulan kemudian hayati sudah mulai bisa membayar hutang-hutang ibu nya bekas membangun rumah yang ia tinggali. Hidup hayati sudah ada secuil harapan kebahagiaan saat bekerja bersama keluarga caines itu. Sedikit demi sedikit kehidupan Hayati membaik sehingga ia dapat membahagiakan ibu serta adik-adiknya. Walaupun pendidikannya terputus di Sekolah Dasar sajah.

Namun sempat ada fikiran untuk lanjutkan ke sekolah nonformal untuk mengambil paket "" B "" setingkat Sekolah Menengah Pertama. 

Di dapur hayati sedang merapihkan sayuran bersama majikannya, Hayati iseng senggang bercerita ia ingin melanjutkan pendidikannya.

 

Hayati: Non.....!

Lingling: iyaaaa.... apa yaat..?

Hayati: kira-kira kalo saya lanjut sekolah ambil paket "" B "" non..izinin saya ga....?

Merasaa ga enak....

Lingling: whay... Tentuuu...."" loo mau ambil paket kelas ""B"". Bisaaa... siih.. 

Kenapa nggak lanjut ke sekolah Formal ajah di SMP yaat kenapa ambil kelas paket..?


bahkan majikannya menawarkan untuk lanjut ke sekolah formal. Namun hayati masih terambang akan kedepan ""bagai mana kalo aku sekolah jatah ibu bisa berkurang, bagaimana kalo aku sekolah gimana nasib adek-adek aku, sedangkan hanya aku tulang rusuk yang menjadi tulang punggung"".


Hayati: iyaaa nonn....tapi masih kepikiran masalah ibu saya di kampung.

""Kenapaaa....? Saut Lingling.

Hayati hanya terdiam enggan menceritakan kesusahan yang ia alami dahulu.


***

Rindu Untuk Ayah


Hari masih begitu pagi, bahkan masih terlalu sunyi dari kokokan ayam. Namun, sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al Qur’an yang terdengar dari pengeras suara masjid yang menandakan akan memasuki waktu subuh.


""Kriiiing......Kriiiing.....!""


HP Hayati berdering samar.

Hayati termenung duduk di pinggiran ranjang yang ditumpuki barang-barang yang tersusun rapih. Mengingat akan sesosok Ayah yang selama ini belum ia jumpai, seakan ingin menumpahkan isi kepala dan hati yang sudah penat, penuh dengan deligasi hinaan yang selama ini ia lalui. 

""Bisa kah engkau hadir yaah? Menenangkan diriku disaat aku yang kini telah terluka dipecundangi dunia, dan tenggelam dalam duka getirnya kehidupan yang saat ini kujalani.

Aku ingin memelukmu, aku ingin melihat senyum dan tawamu disaat kita bercanda dulu.""


""Kriiiiing......Kriiing....!""


Hayati terperanjak dari lamunannya mencari HP yang berdering sejak tadi.

Mengusap air yang menetes di pipi..


""Haloo....Asalamualaikum... iya mih...?""

""Nduuuk.... ibu di sudah di tagih sama orang""

""Iyaa bu tapi aku masih blm pegang duit""

Dengan suara lirih.

""Nanti aku usahain yah mih.""

Telfon ditutup. Suara terdengar syahdu telah memnggil-manggil untuk menghadap Allah SWT.


Hayati pun siap-siap untuk menjalankan salat dalam kamarnya.

Pukul 06:00 pagi Hayati sudah melakukan tugas-tugasnya, menyapu, mengepel, dan memasak.


""Sepertinya aku urungkan untuk melanjutkan sekolah"". Gumam Hayati.

""Yaaaat....""

Teriak dari ruang tamu.

""Iyaaa.. Non....""

""Kita mau berangkat kamu jaga rumah yaah""

""Iyaa non...""

Seorang majiknnya nyletuk.

""Yaat.  Jadi loo lanjut sekolah.. hemm..""

Hayati hanya bisa menggelengkan kepala.


***


Hayati sekarang berusia 15 tahun, fikiran dan rasa tanggungjawabnya kian matang sebelum bertindak berfikir panjang terlebih dahulu.


Diusia yang semakin bertambah Hayati belum mendapatkan kabar tentang Ayah nya. Karena sibuk bekerja untuk kebutuhan hidup dan membayar hutang-hutang bekas buat rumah. Hayati mencari-cari keberadaan Ayahnya hanya melalui media elektronik yang semakin canggih, ia bergabung di salah satu grup daerah Ayahnya berasal dari sana.


""Aku harus bagaimana lagi segala cara sudah aku lakukan namun hasilnya.? 


Disetiap malamnya Hayati hanya bisa menorehkan dibuku digitalnya ""FB"".


""Ayaah.. Aku kangen..""

Aku ingin bicara "" Aku ingin cerita padamu, semua yang aku alami selama ini"". Aku ingin mendengar suaramu menasihatiku, dan apa yang telah engkau berikan kepadaku semua tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupku. Dan kini Aku masih berada diperantawan demi menopang kehidupan Ibu dan Adik....jauh dari semua keluarga dan jauh darimu.""


Terkadang Hayati selalu merengek entah berapa ratus kalk ia meminta Alamat Ayah nya, namun Ibunya enggan memberikannya. 


""Ayah kamu sudah tidak ada Nduuuk..."" ujar nya.

"" nggak mungkin.... terakhir ayah pergi masih sehat.""

""Dulu kamu masih kecil Nduuuk...

Ayah kamu sudah pergi jauh.""


Sekarang, semua itu hanyalah tinggal memori. 


""Allah lebih sayang ayah. Allah bakal panggil ciptaan-Nya yang sudah cukup berjuang. Dan ayah sudah lebih dari sekadar kata berjuang."" Ujar Ibu Hayati.


"" Ayah meski memeluk bayangmu setidaknya kasihmu ada dalam hatiku"".


Bab7

Setelah Hayati mendengar penjelasan Ibunya mengenai sesosok seorang Ayah, hati kecil Hayati merasa tidak puas dan tidak percaya bahwa Ayah yang ia sayangi telah pergi untuk selama-lamanya. 

Hayati hanya bisa diam tenggelam dalam rindunya, 

""Yaa Allah.....berikan petunjuk mu...

Berikan ketenangan hati hamba untuk lebih menerima keadaan yang engkau berikan."" 


Sekian lama Hayati bekerja dikeluarga caines itu sedikit demi sedikit hutang orang tua Hayati tertutupi dan kehidupan keluarganya kian membaik, suatu ketika ditempat Hayati bekerja membutuhkan tenaga untuk bekerja di rumah orang tua majikan Hayati.

Hayati mengajak orang sekampung untuk bekerja bersamanya namun seperti memasukan ular berbisa dalam rumh, orang itu telah memfitnah Hayati dan berbicara yang tidak-tidak kepada majikannya. Singkat cerita Hayati merasa tidak nyaman bekerja satu rumah dengan orang sekampungnya, walaupun Hayati lebih senior dalam keluarga caines itu namun lebih baik hengkang keluar bekerja dari situ. 


Beberapa bulan kemudian Ibu dan Hayati serta adik-adiknya melancong ke Tanggerang Banten, mereka memukim disana dengan kaka tertua dari Ibunya. "


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.