LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Hadiah di Masa Pandemi

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "Hadiah di Masa Pandemi


Kala mentari mulai menyongsong hadir dengan diiringi kabut tebal, aku masih tertidur pulas. Kicauan burung-burung yang mengitari atap rumah pun tak ku dengar. Sontak kaget terbangun ketika mendengar teriakan tukang sayur memanggil-manggil di depan rumah.

“Waduhh jam berapa ini?” tanyaku sendiri seraya memandang jam dinding. 

“Bisa gawat ini, waduh gawat ini.” ucapku penuh rasa takut.

“Ayah bangun Yah, kita kesiangan ini.” kataku sambil beranjak dari tempat tidur.

Aku segera beranjak dari tempat tidur, begitu juga dengan suami dan buah hati. Bergegas menuju kamar mandi untuk mensucikan diri serta melaksanakan salat Subuh secara berjamaah. Aktivitasku selanjutnya yaitu membereskan tempat tidur, merapikan selimut, dan beberapa bantal serta guling. 

Jarum jam sudah menunjukan pukul 05.00 WIB. Hal ini menandakan bahwa aku harus melaksanakan rangkaian tugasku. Suamiku mendampingi buah hati yang masih kecil, sedangkan aku gesit dan patas bertempur dengan berbagai bahan makanan di dapur. Selang beberapa menit, berbagai makanan dan cemilan pagi sudah tertata rapi di meja makan. Begitu juga dengan menu kesukaan si buah hati. Aroma kopi telah menambah gairah semangat hidup ini.

“Hmmmmm aromanya sangat menggoda sekali.” puji suamiku sambil bermain bersama buah hati.

“Ya, pastinya dong, Yah.” jawabku sambil membuka gorden jendela beberapa ruangan.

“Mantap lah istriku.” tegas suami seraya mendekat dan mencicipi sajian yang telah tersedia. 

Canda tawa ikut meramaikan suasana ruang makan yang sederhana. Suasana seperti ini sebenarnya jarang terjadi dalam kehidupanku bersama keluarga kecilku, mengingat suami yang bekerja di luar kota dan pulang seminggu sekali di akhir pekan. Waktu suami bersamaku dan buah hati sangatlah terbatas. Faktor pandemi inilah yang membuatku dan buah hati merasakan kebahagiaan seutuhnya. Meskipun pada umumnya yang dirasakan orang-orang di luar sana sangat berbeda dengan yang ku rasakan saat ini. Bagi mereka yang setiap hari berkumpul dengan keluarga secara utuh, mungkin rasa ini tidak akan mengena dalam jiwa. Tapi bagiku hal ini sangatlah luar biasa dan aku mensyukuri dengan situasi  yang ku alami saat ini. Tidak hanya itu, kewajibanku dengan si buah hati juga tidak terabaikan. Apalagi dengan situasi saat ini peran orang tua sebagai guru di rumah sangatlah utama. 

Reyndra Saverio Kalandra itulah nama lengkap buah hatiku. Sejak usia dua setangah tahun, Reyndra sudah aku daftarkan pada kelompok bermain. Hal ini karena aku sadar bahwa pendidikan wajib ditanamkan sedini mungkin. Berharap di usia emasnya itu Reyndra bisa terbentuk karakternya yang berguna di masa depan kelak. Meskipun di usia yang sangat belia menurut pandangan orang, namun Reyndra bisa mengikuti dan menyesuaikan dengan anak-anak lainnya walaupun belum maksimal. Masih terlintas dengan jelas saat duduk di kelompok bermain, warna meja cokelat yang paling disukainya sampai temannya tidak boleh menempati meja tersebut.

“Meja cokelat itu Ibu.” rengeknya karena meja kesukaannya ditempati temannya.

“Iya ini meja dan kursi cokelat kamu sudah Ibu siapkan sayang.” jawabku mencoba membendung tangisannya. Setelah mendapatkan serba cokelat raut wajah Reyndra berubah girang dengan senyum imutnya. Tidak hanya itu, keluguan dan kelucuannya yang dilakukan saat mengikuti kegiatan di kelompok bermain pun turut mengukir pada memoriku. Kini usia Reyndra sudah memasuki enam tahun lebih. Saat ini sedang menempuh pendidikan sebagai peserta didik baru di SD Negeri 1 Cibangkong. Aku sempatkan waktu untuk selalu mendampingi belajar. Kedisiplinan juga ku tanamkan sejak kecil, hingga sampai saat ini 

Berbagai macam ilmu aku transfer pada buah hati. Dari mengenal angka, mengenal huruf, berhitung, dan juga mengeja bacaan. Seiring berjalannya waktu dan dengan dasar kesabaran yang tinggi, akhirnya Reyndra pun berhasil menguasai seperti huruf, angka, menghitung, dan mengeja beberapa bacaan. Banyak tantangan yang ku terima dalam mendidik buah hati, dari alasan lelah, ngantuk, malas, bosan, dan banyak lagi. Namun ku tetap gigih dan yakin bisa mengalahkan tantangan itu. Berbagai macam metode ku jalani, mulai dari mengikuti webinar, workshop, dll. Ku gali ide dan ku praktikkan kiat-kiat jitu mengajar buah hati di rumah.

Tahun pelajaran baru, lebih tepatnya awal bulan Agustus 2021 Reyndra mulai belajar luring (luar jaringan) di sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sempat kaget saat itu, gurunya langsung menyuruh membaca beberapa kata yang beliau tulis di papan tulis. Saat akan pulang juga kembali melakukan hal yang sama yaitu anak disuruh membaca satu kalimat bacaan di buku paket. Ekspektasi yang sangat luar biasa ku lihat dari luar kelas ketika dia disuruh maju oleh gurunya.

“Reyndra giliran kamu baca kalimat ini!” tegas Ibu guru sambil menunjukan bacaan di buku paket.            

Dengan penuh percaya diri Reyndra pun melangkahkan kaki ke depan. Di ejalah kalimat yang telah ditunjuk guru dengan suara lantang dan tegas. Aku yang saat itu sedang duduk menunggu di luar kelas sangat senang dan bangga si buah hati berkembang dan mampu mengeja bacaan dengan benar. Tidak sia-sia aku korbankan waktu untuk mendampingi belajar. Suatu kebanggaan bagiku bisa mencerdaskan kemampuan dasar pada si buah hati. Dalam benak hatiku merasa bersyukur terhadap apa yang sudah aku lakukan kepada jagoanku.

Jadwal luring sudah ditetapkan oleh guru. Reyndra masuk kelompok dua. Dalam satu minggu ia masuk dua kali. Rindu akan belajar di sekolah membuatnya semangat melewati hari-harinya. Segelas susu menemani sarapan paginya. Sejenak ia menoleh pada jam dinding yang kini menunjukkan pada pukul 07.00 WIB. Dia sontak memanggilku untuk bergegas menyiapkan peralatan mandi.

“Ibu sudah pukul tujuh, ayo mandi, nanti terlambat berangkat sekolahnya!” ucapnya sambil berusaha melepas pakaian.

“Oke siap sayang, segera Ibu siapkan.” jawabku langsung sambil melangkah ke kamar mandi menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.

Setelah selesai membersihkan diri, kaos merah bergambarkan mobil Isuzu Panther menjadi pilihannya. Digendongnya tas kuning bergambar sapi dan tidak lupa mengenakan masker untuk melindungi diri dari virus, ia bergegas melangkahkan kaki menuju sekolah. Tak lupa kebiasaan berpamitan dan doa keluar rumah ia terapkan selalu. Karena sudah beberapa kali diantar, kini dia sudah mulai berani berangkat sendiri. Dilambaikannya tangan kanan sambil tersenyum

“Dada Ibu, nanti lagi ya. Renydra sekolah dulu.” ucapnya sambil bergegas memutar badannya dan melangkahkan kaki menuju arah sekolah. 

Hembusan angin dari luar jendela, menyejukan tubuhku yang saat itu sedang terbalut keringat. Sambil menghela nafas panjang, sejenak aku sandarkan tubuhku pada sebuah kursi biru di garasi rumah menikmati karunia Tuhan, merasakan kesejukan sepoi-sepoi angin hilangkan lelahku sejenak. Daun-daun pepohonan pun turut merasakan kedatangannya, mereka menyambut dengan penuh lapang meskipun nantinya akan meninggalkan luka. Tersayat-sayat membekas bahkan sampai harus relakan tumbang dan kehilangan beberapa ranting yang menjadi simbol keindahan, tetapi mereka tetap tersenyum dan menerima dengan lapang dada. Teringat beberapa tahun lalu, sebuah mobil Kijang merah terparkir di samping rumahku. Suara knalpot mobil menggerung membisingkan telinga tak ku hiraukan. Jantung berdebar, rasa takut, dan senang tercampur menggebu kalbu. Terlihat dari kejauhan serombongan keluar dari mobil dengan busana mewahnya laksana para punakawan keraton mengenakan pakaian adatnya. Dengan keberanian dan diiringi rasa yang bercampur, aku dan orang tuaku membuka pintu. Senyum manis terpancar di wajahku ketika terlintas sosok pemuda mengenakan kemeja panjang warna cokelat berjalan dibarisan paling depan menuju pintu. Disambutnya dengan ramah tamah di ruang tamu sederhana. Canda, tawa, berbagai perbincangan menyelimuti ruangan itu. Dari hal itu lah pada akhirnya terjalin sebuah ikatan kehidupan yang kini ku jalani. Berkomitmen dan kepercayaan penuh membuat aku harus merelakan sang suami bekerja mengorek rezeki di daerah asalnya. Berat awalnya untuk menerima hal itu, tetapi dengan kepercayan penuh akhirnya sedikit demi sedikit bisa menerima keadaan ini. Suara klakson motor dari arah depan rumah mengagetkanku yang sedang asyik teringat memori masa lalu. Hilang sekejap semua angan itu dari pikiranku. Segera ku beranjak menuju dalam rumah. Banyak pekerjaan menanti untuk ku kerjakan.

Pagi pun mulai meninggalkanku dan berganti menjadi mentari yang siap bekerja menjalankan aktivitasnya. Menyerap air dari berbagai pakaian basah yang dijemur di halaman rumah. Terdengar suara gawai berdering dari dalam kamar. Aku yang saat itu sedang di ruangan belakang, langsung bergegas menuju ke kamar. Mataku langsung fokuskan pada gawai yang tergeletak di atas bantal. Sontak kaget dengan informasi yang ku baca dari pesan masuk.

“Selamat Anda memenangkan undian hadiah utama.” 

Aku sampai tak percaya membaca pesan itu. Sebuah event pengumpulan kupon undian di Rita Supermall pusat pembelajaan di kota Purwokerto beberapa bulan lalu yang sudah ku lupakan. Dengan rasa senang tak terbendung, aku langsung menghampiri suamiku yang saat itu sedang asyik bermain game online untuk memastikan pesan yang ku dapat. Suamiku langsung kaget mendengar kabar yang ku sampaikan. Sempat tidak percaya dan berpikir informasi tersebut adalah hoax. Modus penipuan orang saja pikirnya. Dengan cekat suamiku langsung melacak kebenaran informasi tersebut. Selang beberapa saat informasi itu telah di dapat. Wajah sumringah terpancar di raut mukanya. Rasa penasaran membuatku ingin segera mengetahui kebenarannya.

“Yah, bagaimana infonya?” ucapku penasaran.

“Alhamdulillah Bu, kita benar-benar dapat hadiah utama.” jelas suamiku kegirangan.

“Yang benar saja Yah?” tanyaku semakin penasaran.

“Iya, besok kita disuruh datang ke kantor untuk penyerahan tanda terima hadiah tersebut dengan membawa identitas diri.” jelas suamiku dengan nada senang.

“Ya Allah terima kasih dan semoga besok kita dapat informasi sesuai harapan dan bukan unsur hoax belaka.” jawabku sambil kegirangan tak bisa membendung rasa senang.

Sejak saat itu rasa senang terus menghantui suasana rumah, membuat pikiran menjadi gelisah tak sabar menanti datangnya esok pagi. Malam hari pun tak bisa ku lewati dengan tenang. Banyak hal yang dipikirkan. Bercampur aduk tak menentu, baik bayang semu maupun bayangan fakta yang harus diterima.

“Sudahlah jangan berlebihan seperti itu, tidurlah dengan nyenyak agar besok bisa beraktivitas seperti sedia kala.” bujuk suamiku berusaha menenangkan kegundahanku.

“Iya Yah.” jawabku sambil berusaha memejamkan mata.

Mentari pun mulai hadir kembali, aku langsung bergegas bangun dan membangunkan suami serta si buah hati. Salat subuh tak lupa ku kerjakan berjamaah. Sarapan dan menu hidangan kesukaan anak juga segera ku siapkan di meja makan.

“Ayah, Reyndra. Ayo kita sarapan mumpung masih hangat.” ucapku sambil menyiapakan segelas susu dan kopi.

“Baik lah.” jawab mereka kompak.

Setelah selesai sarapan dan jam sudah menunjukan pukul 09.00 WIB. Aku beserta suami dan buah hati bergegas menuju kantor pemberi informasi hadiah undian untuk membuktikan kebenarannya. Sontak senang bukan kepalang tak tertahankan sebuah mobil dengan warna hitam metalik lengkap dengan surat-surat diterima suamiku. Dalam hati ku berbisik ‘Inikah kado di masa pandemiku Tuhan?’ Dapat berkumpul dengan suami menjadi keluarga utuh saja sudah sangat senang, ini bahkan ditambah kenikmatannya dengan mendapatkan kendaraan yang kini menjadi milikku ini. Ini semua merupakan hadiah di masa pandemi yang sungguh luar biasa. Sempat tak dapat dipercaya melihat kenyataan ini. Namun rasa syukur selalu iringi langkahku. Alhamdulillah terima kasih atas berbagai macam nikmat dan anugerah ini semua.


Buah Karya: Surya Widhi Prakosa

"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.