LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Dia yang Ku Kagumi dalam Diam

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "Dia yang Ku Kagumi dalam Diam

Seperti malam yang gelap gulita diterangi sinar rembulan dan sang bintang, berubah menjadi terang. Bukan tentang hampa atau sedih , bukan juga tentang harapan atau perasaan bahagia, ini tentang kebingungan yang tidak bisa diucapkan, lebih jelasnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sudah lama ku kagumi dia dalam diam, sudah berbagai usaha demi usaha dijalani agar mendapat perhatiannya, tetapi sayangnya aku hanya dianggap sebagai orang biasa di depannya, bahkan dia tidak mengenaliku karena sifat penyendiri yang ku miliki. Hati ini begitu bimbang ketika harus menahan semuanya. Dia begitu indah, bahkan nyaris sempurna, kedua mata dengan tatapan dingin selalu ku perhatikan secara diam-diam. Begitu sulit rasanya mendekati sosok yang hampir sempuna seperti dia. Langit, nama seseorang yang ku kagumi, dari namanya pasti sosok Langit ini sangat indah, iya… dia begitu indah, sosok yang merupakan anak dari pengusaha sukses, kemana-mana selalu bersama supir pribadinya, panggil saja supirnya Pak Yanto. Aku tahu nama supirnya dari teman sekelas. Kembali lagi ke topik awal, Langit juga merupakan anak yang pintar, bahkan tidak gugup dalam berbicara, selain itu Langit juga merupakan idola para cewek-cewek di sekolah, semuanya rela menyatakan cinta duluan demi mendapatkan perhatian dari Langit. Langit bersama teman satu geng nya hanya menanggapi itu sebagai hal sepele. Langit memiliki teman dekat, dan kemudian membentuk sebuah geng.

Pertemanan geng tersebut terdiri dari 5 orang, yaitu Langit, Samudra, Bintang, Dimas, Brandon, dan Putra. Dari kelima geng tersebut, Samudra merupakan tetangga sekaligus sahabat ku dari kecil. Pokoknya dulu kemanapun aku pergi pasti Samudra selalu ikut. Sampe sekarang pun masih, tapia gak jarang karena dia sering menghabiskan waktu bersama geng nya Langit. 

Aku Viona, sekarang tengah duduk di bangku SMA kelas 10. Samudra merupakan sahabatku namun dia setahun lebih tua, jadi sekarang diakelas 11 SMA. Di sekolah Samudra tak henti-hentinya menjahiliku, mulai dari mengejek ku dengan sebutan dekil, karena waktu kecil aku begitu kotor, dan tidak suka mandi. Sungguh rasanya ingin menginjak kaki nya karena marah, tapi aku berusaha mengendalikan diri, sejauh ini syukur Samudra belum tahu kalau aku suka sama Langit, waktu Samudra mengejek ku semuanya tertawa dan aku hanya bisa berdiam diri, itu semua disebabkan parang geng tersebut duduk di tangga bawah terkecuali Langit, padahal awalnya aku berniat untuk naik ke kelas ku, ini benar-benar menyebalkan, semua rencana yang sudah ku susun berantakan seketika. Suasana pun berubah ketika Langit turun dari tangga atas untuk mencari geng nya. Aku panik seketika tubuhku langsung gemetar dan tanganku mengeluarkan keringat dingin, “tidak… Langit kesini!’’, bisikku dengan penuh kekhawatiran pada diri sendiri. Samudra yang melihat aku gemetaran dan sekaligus berkeringat kemudia bertanya, “eh kamu ngapain gemetaran kayak gitu?’’, aku pun terdiam, sampai Langit melihat diriku, Langit hanya memasang ekpresi wajah yang benar-benar dingin, Langit memang anaknya seperti itu, ia selalu diam ketika tidak ada hal yang penting dibicarakan, pokoknya dia selalu bersikap dingin ke semua cewek. Memang awalnya aku juga pura-pura dingin saat bertemu dengan Langit, apalah daya dia begitu tampan sampai hati ku luluh, tapi bukan ketampanan nya yang membuat aku mengagumi dia, tapi sisi rapuhnya menarik aku untuk mencitainya, aku pernah melihat Langit diam-diam menangis di kamar mandi, karena tuntutan orang tua yang mengatur semua aktivitas dari Langit, aku kira seseorang seperti dia tidak memiliki kesedihan dalam hidupnya, ternyata aku salah. Setelah lama melamun sambil menatap mata indah Langit, Samudra menyadarkan ku dari lamunan, “Vona!!’’, teriak Samudra kepadaku, aku pun tersadar dan terkejut melihat Langit yang hampir risih karena ku, jadi aku memutuskan untuk cepat-cepat dan bergegas sambil berlari ke ruang kelas. Sejujurnya aku begitu bahagia di dekat Langit, tapi sayang hanya sebentar, andai waktu bisa diulang. Hari itu aku mengikuti pelajaran dengan kurang baik, Bu guru bilang aku kebanyakan melamun sambil tersenyum, bahkan saat aku ditunjuk untuk menjawab soal, aku hanya terseyum sambil melamun. Hal inilah yang menyebabkan aku harus di hukum, aku disuruh membrersihkan halaman belakang sekolah, “kenapa banyak sekali sampahnya, astaga!’’, kataku kepada diri sendiri, terlanjur kesal dengan peristiwa tadi. Suasana hati yang sangat buruk, ditambah sampah yang berserakan, semakin membuat diriku kesal. Di tengah kekesalanku, aku melihat Langit sedang membaca buku di kursi halaman belakang sekolah, jadi dengan hukuman yang dibuat sebagai alasan, aku memberanikan diri membersihkan halaman di dekatnya dengan cara menyapu, aku terlanjur penasaran dengan Langit. Ternyata dari dekat dia begitu tampan. Langit yang mulai sadar dengan kehadiranku, segara bangun dari tempat ia semula duduk, dan bertanya “apakah kau Viona yang berada di kelas 10?’’, mendengar pertanyaan itu aku hanya bisa terdiam dan bimbang “kenapa kamu bisa tahu?’’, dia hanya tersenyum tipis, dan kembali ke kelas. Sungguh aku tidak bisa mengerti dengan sikap Langit.


Bak langit senja yang selalu datang…

Menggantikan peran sang siang…

Mengukirkan suatu kenangan hari ini…

Entah itu keluh atau kesah…

Dia memang belum melukiskan warna…

Bahkan mungkin tidak tertarik dengan itu…

Tatapan mata yang begitu dingin…

Terlintas jelas dalam pikirku…

Dalam diam…

Tetap ku kagumi…


Langit memang berbeda dengan yang lain, sejauh ini aku belum mendengar bahwa dia pacaran. Setelah selesai semuanya bel pulang sekolah pun berbunyi, aku dan Samudra kemudia pulang bersama, karena kami sudah seperti saudara. Di dalam mobil Samudra menanyakan apakah aku suka dengan Langit atau tidak, ternyata Samudra memperhatikan gerak-gerik bola mataku saat melihat Langit tadi, “iya…aku hanya bisa mengaguminya, apakah itu salah?’’. Samudra terlihat sedikit khawatir, itu terlihat jelas dari ekspresi Samudra yang terlihat berubah, itu membuat aku sedikit kebingungan. Setelah sampai di rumah aku bersiap mengganti baju, dan makan siang. Beberapa menit kemudian, Samudra datang…

“loh kamu?, ngapain si…?’’, tanya aku kepada Samudra, “jadi, gini na kedatangan aku cuma ingin memberi tahu sesuatu tentang Langit.’’, jawab Samudra. Aku yang semakin dibuat penasaran, memaksa Samudra untuk menceritakan dan memberitahu semuanya “cepet kasih tau Sam…!’’, Samudra pun berbicara “Gini na, Langit sudah punya calon tunangan, aku memberitahu mu tentang ini karena aku takut sahabat kecilku akan patah hati.’’ Mendengar itu semua seketika membuat dunia ku seketika hancur, lalu tadi maksudnya apa?, Samudra hanya bisa menenangkanku dan memperbolehkan bahunya untuk jadi tempat bersandar, “nangis aja na, aku paham.’’. Keesokan harinya aku berangkat sekolah bersama dengan Samudra, di sekolah aku melihat Langit, namun karena masih teringat dengan hal kemarin, aku memutuskan untuk menyimpan saja perasaanku. Begitu sakit rasanya ketika melihat seseorang yang kita kagumi dalam diam telah mencintai orang lain.Apalah daya aku hanya seorang anak yang biasa, tidak seperti dia yang memiliki segalanya. Untuk selanjutnya aku berusaha untuk menghindar, da sadar bahwa ia adalah hampa yang tak kunjung usai, berharap sendiri dengan satu harapan yang tidak pasti akan pergi kemana. Kecewa yang kurasa, tapi apa peranku dalam kehidupan dia, dia juga tidak terlalu peduli dengan diriku. Sosok yang rapuh dan dingin itu pun tidak peduli. Samudra yang melihat itu semua kemudian mengambil dan menggengam tanganku. 


Oleh : NI MADE LIANA OKTA MAHESWARI"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.