LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

BOLEHKAH AKU PULANG BERSAMAMU AYAH?

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 " BOLEHKAH AKU PULANG BERSAMAMU AYAH?


 “ Jika aku boleh meminta, aku menginginkan semua ini hanyalah mimpi.” Ucapku dalam hati dengan cucuran airmata yang terus membasahi pipiku.

Aku terdiam disaat melihatnya terbaring manis dengan wajah tenang penuh senyuman, membuat hati yang melihat mendapat kenyamanan walaupun dalam kesedihan. Dialah ibu yang paling tercinta. Dialah istri dari seorang pria yang sangat dicintai, istri yang selalu setia menemani suaminya.

Kepergiannya yang begitu mendadak akibat penyakit jantung yang telah lama dideritanya. Kepergiannya sungguh membuat luka yang begitu mendalam terutama bagi ayahku. Ayah setia duduk disamping jenazah ibu yang semakin pucat. Adik perempuanku yang masih berusia 12 tahun menangis dengan terus memanggil-manggil nama ibu.

“ Ibu bangun, ibu, ibu bangun, ibu. Siapa nanti yang buatin sarapan Ara? Siapa nanti yang marahin Ara kalau malas belajar? Siapa bu? Siapa? Ayo bu, bu, bu ayo bangun.” Ucap adikku dengan airmata yang terus mengalir deras dan dengan erat memeluk nenek yang terus memeluk erat adikku

Tak pernah kulihat dia seperti ini sebelumnya, setahuku adikku sedikit tidak peduli. Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar yang tepat menghadap jenazah ibu. Dengan perlahan aku melangkah mendekati adikku, tetapi tiba-tiba ayah menarik tanganku dan membawaku kembali kedalam kamar. 

“ Ayah, tangan Mara sakit, yah.” Ujarku merintih sakit.

“ Sudah saya bilang, jangan pernah kamu keluar dari kamar. Nggak ngerti ya? Tegasnya dengan jari telunjuknya tepat mengarah kewajahku dengan tatapan penuh emosi.

“ Tapi ayah, Mara hanya ingin menenangkan Ara saja, Mara kasihan yah, lihat Ara seperti itu.”  Dengan tertunduk menangis dengan sangat deras.

Mendengar perkataanku, ayah semakin marah, ia  menatapku seakan-akan aku adalah monster dan musuh yang paling berbahaya. Ia dengan keras mendorongku terjatuh tepat dikursi belajar.

“ Lebih baik Ara menangis dihadapan banyak orang. Daripada semua orang harus melihat perempuan cacat seperti kamu.” Ujarnya dengan penuh tekanan dalam berbicara dan begitu lepas tanpa beban.

Sungguh tertusuk hatiku mendengar kata-katanya yang menggoreskan luka begitu mendalam. Saat ada ibu ayah tak pernah berucap begitu kasar kepadaku. aku sangat tahu ia begitu membenci dan tak pernah menganggap aku sebagai anaknya. Tapi tak pernah terfikir dalam situasi seperti ini ia masih memikirkan dan mengutamakan dirinya.

“ Ayah, Mara mohon, Mara ingin sekali keluar. Izinkan mara buat nyentuh ibu terakhir kali saja yah, Mara mohon sangat yah.” Ucapku dengan sangat memelas.

“ Tidak. Saya bilang tidak. Ibu kamu tak butuh sentuhan terakhir dari jari-jarimu.” Tegasnya dengan berjalan menuju pintu.

Dengan sangat bersedih, aku meng-iyakan perkataannya. Ayahpun keluar dari kamarku. Aku hanya bisa melihat dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit, hingga aku bisa melihat jenazah ibu yang mulai diangkat untuk dibawa ketempat peristirahatan terakhirnya.

Aku perlahan menutup  pintu dan masuk kedalam kamar, hingga jenazahnya tak terlihat lagi oleh mataku. Dua minggupun berlalu, ayah dan adikku mulai dengan aktivitas mereka seperti dulu walaupun sedikit lebih berbeda. Nenekku senantiasa setia menemani kami, dengan membuatkan sarapan nasi goreng seperti yang dilakukan ibu. Adikku begitu lahap memakannya. Setelah mengantarkan adikku, ayah kembali lagi karena tas kerjanya tertinggal dimeja, aku mencoba memberikannya tetapi ia malah menghempas tasnya, sehingga terjatuh keras dilantai.

“ Jangan pernah sentuh apapun kepunyaan saya.” Ujarnya lantang dengan memungut kembali tas yang telah terjatuh.

Menyakitkan rasanya, semakin hari semakin tak terjaga lagi ucapnya. Semenjak ibu meninggal, kelakuan ayah sudah tidak dapat terkontrol lagi bahkan saat nenekku melihatnya dan memarahi ayah.

Ayah tak memedulikan nenek dan terus melangkah mendekati pintu, terdengar suara gelas jatuh menghentikan langkah ayah. Nenek berjalan mendekati ayah, dan tiba-tiba tangan keriputnya menyentuh pipi kanan ayah, dan hanya terdiam.

“ Keterlaluan sekali kamu. Tega sekali kamu memperlakukan anakmu sendiri, anak kandungmu sendiri seperti itu.” Luapan emosi nenek.

“ Dia bukan anak saya. Dia anak yang tidak pernah diharapkan. Anak yang akan terus membawa kesialan dalam hidup WIjaya, bu.” Jawab ayah tegas tanpa rasa ragu.

Sungguh sangat tertusuk bahkan tercabik-cabik seperti bangkai dimakan harimau liar. Mataku menatap sedih, kecewa kepada wajah ayah yang selalu kusayang bagaimanapun adanya. 

Nenek yang terbawa emosi mengajakanku ikut dengannya, tapi aku menolak dan mengatakan bahwa kebahagiaanku adalah bersama ayah dan Ara.

Nenek yang mendengarkan perkataanku, akhirnya nenek memilih untuk tetap tinggal bersama kami.

Satu hari sebelum ulangtahun ayah tiba. Setiap tahunnya aku selalu menulis surat untuk ayah dihari ulangtahunnya. Surat berisi penggalan puisi karena ayah sangat menyukai puisi. Padahal sudah tahu ayah tak pernah senang jika aku memberi kejutan untuknya,  

Jam menunjukkan pukul 11:50, tandanya ulangtahun ayah sedikit lagi. Kali ini aku mengajak Ara dan nenek untuk memberi kejutan. Kue, kado, dan surat sudahku siapkan dengan begitu cantik. Hari ini ayah lembur kerja.

“Tok..tok…tok.”Suara ketukan pintu.

Pintu sengaja tidak dikunci agar ayah langsung masuk. Ayah perlahan masuk dengan rumah keadaan gelap, ketika lampu dinyalakan, iapun terkaget melihat aku memegang kue dan menyanyikan lagu ulangtahun bersama Ara dan nenek. Tiba-tiba ia menghempas kue hingga terjatuh. Mata tajamnya menatapku liar seolah ingin menerkam. Tiba-tiba ia menampar dan mendorongku hingga terjatuh kelantai.

“ Saya tidak suka. Sudah berapa kali saya bilang jangan pernah buat seperti ini. Kamu tidak paham? Atau memang kamu bodoh?” marahnya.

Aku hanya terdiam tertunduk meneteskan airmata. Sedangkan nenek membawa Ara kekamar.

“Ohhh, saya lupa, anak cacat seperti kamu mana paham yang saya ucapkan.” Nada keras dan kasar.

Aku semakin terisak-isak mendengarnya.

“ Maafkan Mara yah, Mara Cuma mau buat ayah senang. Ini yah Mara udah siapkan hadiah buat ayah.”ujarku berlinangan airmata.

Ia mengambil dari tanganku kemudian meleparkan tepat diwajahku. Sungguh sangat terkejut, airmataku semakin deras melihat prilakunya.

“ Yah, kenapa ayah begitu membenci Mara? Salah Mara apa?” ujarku penuh tanya.

“ Salahnya karena kamu lahir sebagai perempuan cacat. Itu salah kamu.. karena kamu saya dipermalukan teman-teman kantor saya 11 tahun lalu, gara-gara kamu juga istri saya meninggal. Kamu itu perempuan pembawa sial.” Jelasnya penuh amarah.

Seketika aku terdiam mendengarkan perkataannya. Aku tertunduk merenungi, dan ayah pergi meninggalkanku tanpa rasa bersalah. Tak lama nenek datang menghampiriku setelah menenangkan Ara. Aku langsung memeluknya erat beberapa saat.

“ Nek, apa ibu meninggal gara-gara Mara? Iya nek? Jawab Mara nek?” tanyaku.

Nenek terdiam menatapku dengan isyarat tubuh yang seolah-olah mengatakan sesuatu.

“ Mara, ibu meninggal karena serangan jantungnya, bukan karena kamu.” Jelaskannya.

“ Iya, dan itu gara-gara Mara yang kagetin ibu. Semua ini gara-gara Mara, Mara memang anak cacat sial, nggak berguna.” Ujarku sedih.

Nenek berusaha menenangkanku yang terus menangis hingga aku tertidur. Pukul 7 pagi, aku terbangun dan menanyakan keberadaan ayah. Ternyata ayah sedang ke makam ibu, segeralah aku menyusul ayah dengan membawa kado dan semua surat-surat yang telah aku tulis 10 tahun terakhiri ini. 

Aku berjalan setengah lari. Dari kejauhan aku sudah melihat ayah memakai baju cokelat. Entah kenapa saat itu aku merasa senang tanpa sebab. Aku memanggil nama ayah hingga ayah berbalik kearahku. Tak sadar, saat hendak menyebrangi jalan, aku tak melihat ada  mobil yang melaju kencang. Tak sempat menghindar tubuhku menyentuh mobil dan terlempar cukup jauh. Kado dan surat-surat berserakan kemana-mana. Namun, ada satu surat yang masih dalam genggamanku walau sudah kotor dan penuh darah.

Dari jauh aku melihat bayangan yang mendekatiku, aku berharap itu ayah dan benar itu ayah, ia langsung meletakkan tubuh mungilku dipangkuannya. Pertama kali aku melihat ayah panik dan meneteskan airmata, ia menutupi darah yang terus keluar dari telinga dan hidungku.

“ Mara, tahan ya sayang. Tolong.” Ujarnya begitu panik.

Entah kenapa saat itu aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, rasanya aku ingin waktu terhenti saat itu juga. Aku menatapnya dengan penuh senyuman indah, kupegang pipinya.

“ Ayah….” Panggilku

“ Iya Sayang. Tenang ya kita kerumah sakit sekarang.” Jawabnya meyakinkan.

“ Selamat ulangtahun ayah, maaf ya yah, Mara sudah buat ayah kesal.” Ujarku tersenyum.

Ayah hanya menatapku penuh.

“ Ayah Mara punya hadiah buat ayah, ini ya, didalamnya ada puisi. Mara tahu ayahkan suka sekali sama puisis, jadi Mara buat. Ada 10 puisi, tapi sudah terbang ya, ini satu buat ayah, semoga ayah suka ya.” Ujarku yang tak sanggup menahan sakit.

Ayah hanya menangis memelukku erat dengan memegang surat yang berlumuran darah dan debu. Ia tak mampu mengeluarkan kata-kata dan hanya menganggukkan kepalanya.

“a…yah, suka?” tanyaku pelan.

Hanya menganggukkan kepala.

“ Syukur kalau gitu, Ma..ra se…neng bang…et……..Ayah, maafin Mara ya, ka….lau selama ini Ma…..ra udah buat ayah kesel. Ay….ah nggak usah cema….s seka…rang, Ma…r….a nggak ak…an buat ay…ah kesel la……la..la…gi.” ujarku terbata-bata karena tak kuat lagi.

Ayah memelukku erat dan menciumi pipi dan keningku sembari mengelus rambutku.

“ Iya sayang, Mara nggak pernah buat ayah kesel. Jadi sekarang Mara kuat ya. Kita kerumah sakit.”ujarnya.

Ayah hendak berdiri dengan menggendongku, namun aku menahannya.

“ Ayah, Mara mas….ih mau di….sini sama ay….ah. bolehkan? Ke…rumah sa…kitnya na…nti saja ya yah………….? Mara sayang sam……a ayah.” Ucapnya terakhir.

Mataku tiba-tiba tertutup tersenyum bahagia, walaupun aku harus pergi namun aku sangat bahagia karena aku pergi didalam pangkuan dan dekapan kasih sayangnya yang sangat ku nantikan. Terima kasih ayah.



"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.