LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

BADUT JALANAN

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "BADUT JALANAN

By Rosy Rahayu Putri


  “Bapak pergi kerja dulu yak?” 

Seorang gadis kecil berusia tiga tahun lebih empat bulan menyambut uluran tangan seorang pria yang ia panggil bapak dan mencium punggung tangannya. 

   “Nanti pulang belikan es krim dua ya pak”

Senyuman dengan mata berbinarnya tak mampu membuat pria itu untuk mengatakan tidak. 

  “Iya, nanti bapak belikan ya” Pria itu mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang. 

  “Ini pak bekalnya” Wanita berdaster lusuh memberikan kantong plastik berisikan bekal yang ia bungkus dengan kertas minyak. 

   “Yaudah bu, bapak berangkat dulu”

   “Iya Pak, hati-hati ya” Ia mencium punggung tangan suaminya. Melepas suaminya untuk mencari nafkah. 

Romli, pahlawan bagi keluarga kecilnya. Ia di-PHK sejak pandemi melanda. Sudah puluhan surat lamaran kerja ia serahkan, namun belum satupun yang memintanya untuk melakukan wawancara. 

Setiap hari ia mengayuh sepedanya menuju perempatan lampu merah, disanalah dirinya bekerja. Satu-satunya sepeda motor yang ia punya, terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan modal dagang yang tidak jua balik modal. Bahkan semua tabungannya ikut ludes untuk menjadi modal usaha. 

Pekerjaan ini, jalan satu-satunya untuk tetap menjadi tanggung jawab keluarga kecilnya. Romli menyandarkan sepedanya pada pohon mangga yang ada di tepi jalan. Ia menurunkan tas besarnya dari boncengan dan segera mengenakannya kostum yang selama ini menjadi alat untuk dirinya berkerja. 

Kostum besar bertokoh Marsya dalam serial kartun Marya and the bear sudah sempurna melekat di tubuhnya. Di bawah terik matahari, ia menjunjung radio kecil di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memegang toples berwarna putih. 

Ketika lampu merah menyala dan semua kendaraan berhenti, saatnya ia beraksi. Menyetel musik, berjoget, dan menemui setiap pengendara yang ikhlas memberinya sepeser uang. Hanya beberapa orang yang menatapnya penuh dengan kasihan, selebihnya mereka menatap Romli dengan ketidaksukaan. 

Pekerjaan ini memang tidak sulit dan tidak juga mudah. Hanya orang-orang yang sabar dan ikhlas yang mampu melakukan ini. Sabar dalam menghadapi gerah dan panasnya berada di dalam kostum besar di bawah terik matahari yang sangat menyengat. 

Saat beristirahat di bawah pohon mangga, Romli teringat pesan anaknya untuk membelikan es krim. Dengan segera dirinya menyelesaikan suapan terakhir tempe goreng masakan istrinya. 

Romli melucuti semua konstumnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Ia mengayuh sepedanya menuju warung yang menjajakan es krim. 

    “Semuanya tujuh ribu pak” Romli menerima plastik dengan dua bungkus eskrim coklat di dalamnya. 

   “Ini mbak, terimakasih.” Ia membayar dengan uang dua ribuan dan lima ratusan hasil kerjanya hari ini. 

Dengan tersenyum puas, Romli memasuki rumah yang sudah disambut oleh anak kesayangannya. 

    “Nih lihat, bapak bawa pesenan kamu”

    “Asik rasa coklat. Makasih bapak” 

Romli bahagia melihat anaknya senang atas pemberiannya. Ia melangkahkan kaki menemui istrinya yang sedang membereskan kamar. 

    “Bu” Romli mengulurkan tangannya yang disambut oleh istrinya dan duduk di hadapannya. 

    “Bapak pasti capek, biar ibu ambilkan minum ya pak” Baru saja hendak beranjak, Romli tidak membiarkan istrinya pergi. 

    “Bapak cuma dapet uang empat belas ribu, tadi buat beli es krim tujuh ribu” Romli menyerahkan uang receh pada istrinya. Istrinya pun tersenyum dan menatapnya. 

    “Maafin bapak ya bu, belum bisa jadi suami yang baik.”

Romli menatap wajah istrinya yang tak kalah lelahnya. 

    “Gak papa kok pak. Selagi bapak cari yang halal, ibu selalu dukung bapak. Lagian kita juga masih punya sekaleng beras buat masak besok pagi. Besok ibu usahain buat minjem beras di tetangga. Makasih ya pak udah jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab buat ibu dan Ana”

   “Kalau ibu mau ninggalin bapak, bapak ikhlas kok bu. Bapak gak tega liat ibu dan Ana dalam kondisi seperti ini terus.” Tangan Romli digenggam erat oleh istrinya. 

    “Pak, empat tahun yang lalu setelah bapak selesai ngucapin ijab kobul, ibu udah nerima bapak apa adanya. Ibu percaya kalau ibu gak salah pilih cari pendamping hidup. Nyatanya, sekarang bapak masih usaha buat nyari pekerjaan. Pak, hidup itu bukan sekedar tentang harta. Ada yang hartanya melimpah, tapi mereka sering depresi dan mabuk-mabukan. Karena uang mereka banyak, jadi mereka gak sayang sama uang mereka. Ada yang bahkan untuk makan setiap harinya pun susah, tapi mereka bahagia pak. Seperti kita ini, walaupun kita sedang terpontang-panting kita juga harus tetep bersyukur. Percaya pak, tidak selamanya roda kehidupan kita berada di bawah”

Romli memeluk istrinya erat. Air matanya berhasil lolos untuk yang kesekian kalinya. 

     “Ibu, terimakasih udah selalu ada saat bapak terjatuh sekalipun”  

Seusai sujudnya, Romli selalu bercerita pada Tuhannya. Ia selalu mengucap syukur karena telah ditakdirkan bersama orang yang sangat sabar seperti istrinya. Ia selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhannya untuk setiap harinya. 

"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.