LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Apa itu Puisi?

 








Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Net 24 Jam. Puisi ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Lembayung". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.lintang.or.id/2021/10/lomba-cipta-puisi-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati puisi di bawah ini:


 Apa itu Puisi?


Apa itu puisi, kau mungkin bertanya—sebuah definisi dari subjek yang taksa—di mana tak ada yang tahu secara pasti. Kau tanyakan, apakah ia adalah ekspresi yang tertuang dalam satu kertas polos dengan warna yang statis, atau ia membawa makna baru setiap ia berpindah tangan? Kau tanyakan, untuk apa ia ada dalam eksistensi, dan mengapa nyaris semua tentangnya dikaitkan dengan kepuitisan yang romantis. Kau katakan bahwa puisi adalah bentuk keresahan, tapi tidak boleh meresahkan. Kau tanyakan, kenapa kita mau menulis sesuatu yang akan lenyap untuk beberapa abad ke depan. 


Tak seperti musik atau lukisan, tekstur yang kita berikan padanya selapis demi selapis tidak dapat diraba atau didengar, tetapi bisa dirasakan. Kita dibuat menangis dan bergejolak olehnya, terbawa oleh badai mental dan dielus oleh halimun malam. Setiap kali ia berpindah tangan, maka berubahlah juga interpretasi dan maknanya—bagi orang yang hendak memahami dalam perspektif yang berbeda—sehingga padanya tak ada makna tunggal. Memang bukan hal yang magis, tapi tendensi kita yang sukar menjelaskan dan mencerna sesuatu yang elusif, eksulansis.


Ketika kita merasakan sebuah emosi yang kuat darinya, kita sangat susah untuk menjelaskannya. Baik tantrum dan ratapan, sukacita maupun ketakutan, semuanya seperti butir-butir salju yang selalu berbeda di tiap pengalaman, yang selanjutnya menggumpal menjadi bola salju di atas puncak roller coaster gigantik, siap ditunggangi. Tanpa kita sadari, bahwa merekalah yang membuat kita menjadi manusia. Mereka merajai perasaan manusia, dan manusia merasai mereka. Perhatikan dam lihatlah bagaimana perasaanmu selalu terombang-ambing olehnya. Maka, di mana puisi tentang mencinta dan dicinta yang selalu kau santap itu?


Kau katakan, nama kita akan abadi dalam puisi selama-lamanya. Lantas, siapa yang akan mengingat kita dan apa yang kita tuliskan setelah manusia punah? Manusia hanya salah satu dari sekian banyak yang datang dan pergi di semesta ini. Sebuah usaha sia-sia untuk mengabadikan nama dalam puisi, jika yang kau pinta adalah untuk disanjung dan dipuja orang banyak. Kau seakan selalu melihat berapa banyak pembaca yang menyukainya, bukan seberapa besar pengaruhnya pada yang membaca. 


Kendati demikian, lihatlah dirimu sendiri, dan bertanyalah. Sudahkah engkau menemukan kebahagiaan dan ketentraman dengannya? Sudahkah dia memurunkan kebijaksanaan dan kecerdikannya padamu? Sudahkah dia mengangkat derajatmu pada tiap kata yang kautorehkan padanya? Jika belum, maka bangkitlah, dan beri peringatan pada dirimu sendiri sebagai seorang tuan dan puan penggembala kata-kata. Jika sudah, maka bangkitlah, dan kuharapkan kau bisa menemukan transendensimu sendiri melalui dirinya.

Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.