LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

AKU TELAH MENYADARINYA

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "AKU TELAH MENYADARINYA

KARYA : TIKA ESTRI UTAMI

Kring...kring...kring... Jam beker berbunyi menunjukkan pukul 07.00 . Sinar mentari telah menembus kamar dan memberikan suasana hangat di pagi hari . “Whaaaaa....pukul 07.00?? Aduh pasti telat nih, mana belum nyiapin apa-apa buat pelajaran hari ini .”teriak seorang gadis sambil kebingungan dan mengacak-acak tempat tidurnya . Bergegaslah ia turun dari tempat tidurnya menuju  kamar mandi .

“Sindi Ariani Bahari”, ya itulah namaku . Aku seorang anak tunggal yang berasal dari keluarga cukup terpandang di seluruh kotaku , Jakarta . Disitulah aku dilahirkan dan dibesarkan hingga sekarang . Papaku seorang pejabat, sedangkan Mamaku hanyalah ibu rumah tangga , jadi saat aku di sekolah , Mamaku selalu pergi jalan-jalan , entah kemana aku tak tahu . Mama selalu tiba di rumah pukul 21.00 , dan Papa biasanya tiba di rumah sekitar pukul 24.00 , kadang juga tidak pulang . Dan aku sendiri di rumah , hanya ada Mbok Inah yang selalu mengurusi aku sejak kecil . Aku jarang sekali bisa berkumpul bersama kedua orang tuaku . Jadi aku bisa juga disebut anak kurang kasih sayang dari orang tua . Tapi tak apalah, aku bahagia dengan hidupku , semua yang aku inginkan selalu dipenuhi .

“Non, ini sarapannya sudah siap “ kata Mbok Inah sambil mengetuk pintu kamarku . “Iya Mbok, sebentar lagi aku keluar “ jawabku dari dalam kamar . Selang beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar . Aku menuruni tangga dan kulihat meja makan sepi , tak ada Papa dan Mama . Kalau pukul segini Papa sudah berangkat , mungkin sekarang sedang kena macet . Biasalah namanya juga Jakarta , tak pernah lepas dari yang namanya kemacetan . Mama pasti masih dandan di kamar , itulah kebiasaannya setiap pagi , setelah itu langsung pergi . “Mbok aku minum susu saja , sudah telat ini .” teriakku pada Mbok Inah . “Ma ,Sindi berangkat “ kataku pada Mama dan tak ada jawaban dari Mama . Aku menunggu taksi di depan rumah tapi tak ada satu pun taksi yang lewat . Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.45 . Beginlah aku, tak pernah hilang dari telat kesekolah.  Akhirnya kulihat sebuah taksi dan ku hentikan tepat didepanku . Aku minta pada sopir taksi supaya kecepatannya lebih semakin di tambah lagi . Sampailah aku di depan SMA TUNAS BANGSA . Itulah sekolahku , hanya anak dari orang kaya lah yang dapat menuntut ilmu disitu . Maklumah , biaya sekolah disitu cukup mahal , dan itu merupakan sekolah swasta terfavorit di seluruh Jakarta . Ku lihat pintu gerbang sudah ditutup . Jadi seperti biasa aku naik dari dinding samping sekolah untuk dapat masuk ke sekolah . “Buuuuk!!” suara tas yang berhasil ku jatuhkan . “Buuuuk!!” aku berhasil melewati dinding tembok itu . Aku langsung berlari menuju kelasku . Sampai di depan pintu kelas “Sindiiiii.....kamu itu setiap hari selalu terlambat . Berdiri di depan pintu sampai saya selesai belajar!!!” bentak Pak Joko dan diikuti tawa teman-temanku dari dalam kelas . Pak Joko memang terkenal guru yang paling killer di SMA TUNAS BANGSA . Makanya aku pilih tidur ketika dia mengajar . Alhasil ulanganku Matematika selalu dapat 50!!.

Teng...teng...teng Pak Joko keluar dari kelasku, “Awas, besok jangan terlambat lagi “ kata Pak Joko sambil berlalu pergi . Aku hanya senyum dan langsung masuk ke kelas . “Terlambat lagi Sin ? Emang hari ini kamu bangun jam berapa?” tanya Evi salah satu best friendku . “Jam 07.00” jawabku cuek . “Gila kamu, itu udah lebih dari telat” sahut Evi . Suasana kelas yang tadi gaduh kini menjadi sepi karena Bu Era sudah terlihat di depan pintu kelas Sindi . “Pagi” sapa Bu Era pada murid-muridnya  “Pagi ,Bu” jawab anak-anak serempak . “Kumpulkan tugas Fisika yang telah saya berikan minggu lalu” kata Bu Era . “Eh, Vi emang ada tugas apa sih ? Setahuku enggak ada tugas sama sekali deh .” tanyaku pada Evi dengan bingung . “Itu lo , tugas Fisika tentang gelombang elektromagnetik,” jawab Evi dengan santainya . “Ya ampun!!! Aku belum mengerjakan sama sekali “ kataku . “Siapa yang belum mengerjakan , silahkan berdiri di lapangan sambil hormat pada bendera hingga waktu istirahat.” Kata Bu Era . “Sindiiiii” teriak teman-temanku satu kelas dengn kompak . Ya, mereka selalu tau dan hafal betul kalau aku memang tidak pernah mengerjakan tugas , tepatnya sering . Lalu aku keluar dari kelas menuju lapangan untuk melaksanakan perintah Bu Era . “Panas, capek, lapar” kataku dalam hati . 

Teng...teng...teng...teng... Bel  istirahat berbunyi . Siswa-siswa mulai berhamburan keluar dari kelasnya . Terlihat Bu Era berjalan mendekatiku . Aku hanya diam dan mengusap keringat yang membasahi dahiku . Apalagi kulitku mulai terlihat hitam karena terbakar sinar matahari . “Bagaimana Sindi, apakah kamu masih ingin tetap berdiri terus disini sampai jam pulang sekolah?”tanya Bu Era , “Hehe...tidak Bu, sudah cukup.” Jawabku dengan lemas . “Kalau begitu mulai sekarang ingat, jangan sampai lupa untuk mengerjakan lagi. Nilaimu selalu berada dibawah KKM, kalau begini terus bagaimana kamu bisa naik kelas?”kata Bu Era sambil marah . “Ya , Bu .”jawabku pelan dengan kepala menunduk . “Sudah kembali ke kelasmu sekarang” kata Bu Era sambil berlalu pergi . “Makasih, Bu”jawabku. 

“Hahaha...anak mami baru hormat bendera ni, patriotisme banget sih” ledek Bima saat aku mulai masuk kelas . Aku hanya diam, karena badanku terasa capek dan lemas sekali . “Minum dulu Sin”kata Evi sambil menyodorkan sebotol air minum kepadaku . “Thanks”jawabku dan cepat-cepat aku meminumnya, karena tenggorokanku sudah kering bagaikan musim kemarau yang sangat panjang . “Anak mami kehausan”ledek Bima lagi ditambah tawa teman-teman satu kelas . “Gubrakkkkk!!!”suara meja yang ke tendang dengan kakiku .”Jangan sekali-kali sebut aku dengan sebutan anak mami . Karena aku bukan anak mami, atau kamu pilih ku buat babak belur mukamu dalam waktu kurang dari satu menit!!!”kataku dengan nada mengancam. “Siapa yang takut sama anak mami”kata Bima . “Plakkk!!!”suara tanganku yang telah menampar pipi Bima. “Cewek sok jago!!!”kata Bima sambil mendorongku dengan keras hingga aku terjatuh di lantai . Akhirnya aku dan Bima bertengkar dan suara anak-anak heboh. Mereka menganggap ini merupakan ajang perlombaan pertengkaran boy vs girl . Ku dengar samar-samar ada yang menyuruhku untuk menonjok Bima lebih keras lagi . “Berhenti!!!” sebuah teriakan keras laksana petir menyambar seluruh jagad raya ini . Seisi kelas langsung diam dan kami semua kembali ke tempat duduk masing-masing . Ternyata itu suara Pak Joko . Beliau mendengar kegaduhan di kelasku saat berjalan melewati depan kelasku . “Ini sekolah, bukan arena tempat para jagoan dan preman bertanding. Dan kamu Sindi, kamu itu perempuan , tapi tingkahmu seperti anak laki-laki . Bima, mestinya kamu tidak malah membuat suasana tambah kacau, kamu itu laki-laki . Harusnya memberi contoh dan perilaku yang baik laksana seorang pemimpin . Sekarang kalian ikut Bapak ke kantor “ kata Pak Joko dengan raut muka yang kesal . Aku dan Bima mulai beranjak dari tempat duduk kami dan berjalan menuju kantor .

“Seharusnya kalian itu malu. Kenapa bertengkar hanya karena hal sepele .”kata Pak Joko . “Ini bukan hal sepele, Pak!! Bima menyebut saya dengan sebutan “anak mami” padahal kenyataannya bukan begitu”kataku membela diri . “Apa namanya kalau bukan anak mami?? Selalu dimanja, minta ini itu selalu dituruti sampai-sampai selalu lupa tidak mengerjakan tugas sekolah”kata Bima dengan nada keras . “Sudah diam!!! . Ini kantor bukan lapangan , jadi kalau bicara jangan keras-keras. Sebagai hukuman karena kalian telah membuat kegaduhan disekolah, maka sepulang sekolah kalian harus membersihkan toilet hingga bersih . Kalau ada yang tidak setuju, maka sebagai gantinya orang tua kalian besok harus datang kesekolah menemui saya.”ancam Pak Joko . “Baik, Pak . Kami akan melaksanakan perintah Bapak.”jawabku dan Bima . “Bersihin toilet???yang benar saja , seumur-umur baru kali ini aku membersihkan toilet . Kalau di rumah kan ada Mbok Inah yang selalu  membersihkannya . Dan toilet di sekolah kan kotor banget, ya ampuuuuuun!!!”rintihku dalam hati . “Sin, bengong aja kamu.”kata Evi yang tiba-tiba muncul dari belakangku . “Siapa yang bengong!!! Aku lagi mikir.”kataku dengan sewot . “Mikir apaan??”tanya Evi . “Sepulang sekolah nanti aku dan Bima dihukum Pak Joko buat bersihiin toilet. Males banget tauuk!!”jawabku dengan ketus . “Hahaha...aneh-aneh juga hukumannya.”kata Evi sambil tertawa . “Jangan ketawa dong!!! Turut berduka cita kenapa .”kataku dengan sebal . “Yee...berduka cita, siapa yang meninggal buuk??”kata Evi yang masih tetap saja tertawa . “Eh pulang sekolah nanti jalan-jalan yuuk?”ajakku pada Evi . “Mau kemana sih? Emang kamu bawa mobil sendiri?”tanya Evi . “Nggak , ya nanti pulang dulu ambil mobil . Tapi tungguin aku dulu , karena aku harus bersihin toilet dulu “kataku . “Oke deh!!”jawab Evi sambil mengacungkan kedua jempolnya .

~~~~~~

“Eh kalau bersihin yang bener dong ,tu masih ada yang kotor” kata Bima . “Ni udah bener, mungkin emang lantainya nggak mau dibersihin kali”kataku. “Males dan nyebelin banget hari ini . Ini pengalaman pertamaku bersihin toilet . Andai saja ada malaikat yang baik yang mau mengirimkan Mbok Inah kesini . Pasti aku beruntung banget . Nggak harus capek-capek kaya gini” kataku dalam hati . Akhirnya kami pun selesai membersihkan toilet . Itu tandanya hukuman kami sudah selesai . Bima langsung berjalan pergi , sepertinya dia terburu-buru . Kulihat Evi duduk dibawah pohon dekat lapangan basket sambil membaca majalah seraya menungguku . Ada Evi pasti ada majalah tentang fashion . Waaah.......dia langsung cepat tanggap . “Sorry ya lama”kataku pada Evi . “No problem . Santai aja”jawab Evi .

“Taksi yang kami naikki sudah sampai di depan rumahku. Pintu gerbang masih tertutup rapat. Kalau jam segini Mbok Inah pasti sedang menyiapkan makan siang untukku. Ku pencet bel yang ada di tembok depan pintu gerbang. Tak lama kemudian Mbok Inah datang menghampiri untuk membukanya. “ Sudah pulang Non?”sapa Mbok Inah . “Sudah Mbok .” jawabku . “Makan dulu yuuk Vi, aku lapar sekali “ kataku mengajak Evi makan . Aku dan Evi makan siang di meja makan . Biasanya aku selalu makan siang sendiri, bukan hanya makan siang , tapi makan pagi dan makan malam pun juga sendiri , tak ada yang menemani . Padahal aku ingin makan selalu ditemani Mama dan Papa . Kami tak pernah kumpul bersama . Mereka selalu disibukkan oleh urusannya masing-masing . Aku dianggap tidak ada dikehidupan mereka . Kadang aku berfikir apakah aku ini anak angkat , karena mereka tak pernah ada disetiap aku membutuhkan . Aku ingin bisa dekat dengan Mama , yang selalu mau mendengarkan curhat-curhat dari buah hatinya . Aku juga ingin bisa dekat dengan Papa yang selalu memberi motivasi dan semangat pada buah hatinya . Tapi itu semua hanyalah khayalan belaka . Aku membuka garasi dan ku keluarkan mobl Honda Jazz merah . Mobil itu dibelikan Papa ketika ulang tahunku yang ke-17 2 bulan lalu . Awalnya aku ingin di ulang tahunku yang ke-17 ini bisa berkumpul sama Papa dan Mama . Tapi Papa malah pergi keluar negeri untuk melaksanakan tugasnya . Sedangkan Mama saat itu sedang ke luar kota , katanya sih ada urusan ketemu teman lama gitu , alias reuni . Jadi Papa hanya menyuruh sales untuk mengirimkan mobil ini kerumah . Jadi tak salah kalau sekolahku berantakan dan aku sering berkelahi , sering membolos , serta selalu telat ke sekolah karena tak ada perhatian sedikit pun dari orang tuaku . Mereka tak pernah peduli padaku.

“Jangan ngebut-ngebut , Sin!!! Bahaya ini jalan raya” kata Evi dengan ketakutan. “Hahaha....kenapa takut?Cuma 120 km/jam kok.”kataku . “Gila kamu!!! Kamu mau mengajakku mati??”bentak Evi . “Udahlah tenang aja , pasang sabuk pengaman”kataku pada Evi . Kecepatan mobilku semakin ku tambah , dan Evi hanya memejamkan matanya sambil ketakutan . Masalah ngebut seperti ini sih aku sudah biasa . Hanya dengan ini aku bisa melampiaskan semua masalah yang kuhadapi . Pernah aku mempunyai impian kelak aku ingin menjadi seorang pembalap . 

“Chiiiiiiiiiit!!!”suara rem mobil yang ku injak dengan tiba-tiba . “Aduuuuh”suara Evi sambil memegang dahinya karena terantuk kaca mobil . “Aku menabrak seseorang , gimana ini?”kataku dengan panik . “Ayo keluar, kita harus tanggungjawab sebelum polisi datang”ajak Evi . Aku masih takut dan hanya bisa duduk  diam sambil memegangi setir mobil . Baru kali ini aku menabrak seseorang . Evi minta bantuan pada orang-orang yang ada disekitar untuk mengangkat orang yang ku tabrak tadi ke dalam mobilku . “Cepet kerumah sakit , sebelum terlambat”kata Evi . Tanpa pikir panjang aku segera tancap gas menuju rumah sakit . Aku dan Evi menunggu korban yang ku tabrak tadi diruang tunggu . 

Orang tua korban dan Orang tua Sindi datang dan menunggu disebuah bangku dekat ruang UGD . Orang tua korban terlihat bingung dan cemas , bukan hanya anaknya yang menjadi beban tetapi juga masalah biaya . Sindi berlari menuju Papa nya “Pa , bisa minta tolong?”tanyaku pada Papa . “Iya , masalah biaya kan ?? Tenang nanti Papa yang urus , sekarang Papa harus balik ke kantor karena ada meeting proyek besar”jawabnya dengan tergesa-gesa . Sementara Mama Sindi tidak memperdulikannya dan hanya sibuk dengan gadgetnya . Selama beberapa hari aku menunggu korban yang aku aku tabrak , sehingga mereka telihat akrab satu sama lain . Mereka berdua saling cerita dan sharing seperti orang lama yang baru bertemu . Dan ditengah percakapan itu aku kaget mendengar apabila korban yang ku tabrak itu dari keluarga yang miskin . Ya ,Novita Septa namanya. Menurutku Novi itu baik,sopan,pendiam, sampai-sampai aku tertarik dengan kepribadian Novi.  “Nov, kapan-kapan aku maen kerumahmu ya!” tanyaku pada Novi. “Hmm, tapi kamu pasti tidak nyaman.” Jawab Novi dengan melas.” Tenang ,gak papa kok, setelah kamu sembuh ya!” pinta ku pada Novi. “ Baiklah.” jawab Novi dengan senyum. Seperti persahabatan lama yang terlihat dari tatapan mereka . Saling bercanda, bercakap, tiada beban.  

Setelah 2 minggu aku menemani Novi dirumah sakit, tiba saatnya aku  untuk menanyakan perjanjian Novi. “Nov gimana??Sekarang aja ya main kerumahmu!!”pintaku pada Novi . “Kamu beneran nih?”tanya Novi padaku . “ya iyalah , masa’ gak bener sih.”jawabku pada Novi sambil tertawa . “Baiklah,sekarang Sin.”jawab Novi dengan tersenyum . 15 menit perjalanan dari Rumah Sakit ke rumah Novi . Sesampainya disana aku ingin meneteskan air mata . Melihat keadaan rumah Novi yang begitu jauh dari kata layak . Di dalam hati aku hanya bisa berkata “Aku masih beruntung bisa tinggal dirumahku itu.” Novi yang merasa aneh melihat Sindi melamun menatap rumahnya , “Sin,kamu kenapa??kok melamun.”tanya Novi padaku . “Aku nggak papa kok, udah ayo masuk masa’ dari tadi berdiri disini.”jawabku pada Novi dengan tersenyum . 

Novi menceritakan kahidupannya . Dengan pasti aku mendengarkan itu, sampai-sampai tak sadarnya aku air mata mulai menetes . “Sin, kamu kenapa nangis?”tanya Novi sedikit panik. “Nov, kamu hebat . Kamu anak pantang menyerah, baik, dan tidak putus asa . Aku bangga bisa kenal kamu.”jawabku dengan menangis. Dalam hati aku mulai sadar selama ini memang hidupku mewah, selalu tercukupi , tapi aku lupa jika dibawahku itu lebih kurang dariku . Aku juga sadar selama ini aku boros dan selalu berbuat kesalahan. Dari Novi aku belajar tentang kehidupan . Aku melihat jam tanganku dengan kaget “Apa??? Jam 21.00!!!”teriakku histeris . “Sin, kenapa???Kamu mau pulang???”tanya Novi padaku . “Iya Nov, pasti Mbok Inah cemas nungguin aku.”jawabku tergesa-gesa . “Yaudah gak papa pulang aja, hati-hati ya Sin!!!”jawab Novi . “Iya makasih Nov.”jawabku tersenyum . “Sama-sama”jawab Novi . 

15 menit perjalanan dari rumah Novi kerumahku . Mobil merah yang ku naiki telah masuk ke dalam garasi . Telingaku berdenging ketika terdengar suara Papa dan Mama bertengkar . Dengan segera aku masuk ke dalam rumah . Disana terlihat Papa sedang merapikan baju dan dimasukkannya ke dalam koper besar . Sedangkan Mama terlihat marah tanpa ku tahu alasannya . “Pa...Ma...ada apa ini?”ucapku bertanya-tanya . “Papa mu Sin dia dipecat.”jawab Mama dengan suara merendah . “Itu bener Pa??? Kenapa???”jawabku kaget . “Iya Sin, Papa dipecat karena Papa korupsi uang perusahaan.”jawab Papa kepadaku . “Apa??? Uang korupsi ??? Jadi setiap hari apa yang Papa belikan buatku itu dari uang korupsi.”jawabku tak percaya . “Sindi, maafin Papa ,Papa lakuin itu karena Papa pengin kamu bahagia.”jawab Papa dengan menangis . Dengan rasa kecewa aku berlari ke dalam kamar . Aku membereskan pakaian , dan perlengkapan yang ada , karena semua fasilitas telah disita oleh Bank . “Pa, Sindi nggak butuh uang , nggak butuh benda-benda mahal . Sindi cuman butuh Papa sama Mama , Sindi pengin kayak orang lain, setiap hari selalu sama Orang Tuanya.”ucapku sambil menangis . “Sin, maafin Mama sama Papa ya, kami berdua selalu sibuk sama urusan masing-masing. Papa sama Mama telah melalaikan kamu.”ucap Mama dengan memeluk Sindi . 

Sebuah rumah yang sangat jauh berbeda dari rumahku sebelumnya kini menjadi tempat hidupku . “Sin, kamu tidak keberatan kan tinggal disini?”tanya Papa padaku . “Tidak Pa , yang penting aku masih bersama Papa dan Mama.”jawab Sindi dengan tersenyum . Setiap hari aku mencoba beradaptasi dengan lingkunganku yang baru. Aku juga sadar apa yang dikeluhkan Novi sekarang ada dipihakku . Mencoba bertahan dengan keadaan seperti sekarang ini tidak mudah bagiku , tetapi aku bahagia karena aku bisa dekat sama Papa dan Mama. Hal inilah yang aku inginkan, aku bisa merasakan arti dari keluarga . 

Kebahagiaan bukan diatur dari banyaknya harta , tetapi banyaknya waktu bercanda bersama keluarga . Kini sebuah kebahagiaan telah ku dapatkan walau dalam keadaan susah sekalipun . Pribadiku sekarang menjadi lebih baik , karena disisiku ada orang yang ku sayangi memberiku semangat tiada henti . Aku kini bangkit dengan sebuah harapan baru . 



"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.