Saat itu, pukul dua dini hari. Hujan turun begitu derasnya. - Kumpulan Cerpen

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


Saat itu, pukul dua dini hari. Hujan turun begitu derasnya.


Orang-orang sudah tertidur lelap di dipannya masing-masing, bermimpi indah. Anjing-anjing liar yang seringkali menggonggong saat dini hari itu tidak lagi terdengar suaranya. Hewan-hewan ternak meringkuk di kandangnya masing-masing, lelah bermain di padang seharian. Hujan itu membuat tidur mereka lebih nyaman.


Namun tidak bagi seorang nenek paruh baya itu. Nenek itu masih terjaga di atas kursi goyangnya. Dia menatap keluar jendela. Menyaksikan butiran hujan yang satu per satu turun membasahi bumi. 


Matanya menatap kosong ke langit malam. Entah menatap apa.


Nenek itu bangkit dari kursi goyangnya. Dia menutup jendela. Tubuhnya sudah merasa dingin. Hujan bertambah deras di luar sana.


Tiba-tiba seorang pemuda memanggil nenek itu, “Bu, bisa ke sini sebentar?”


Mendegar itu, nenek kemudian berbalik, menghampiri pemuda yang sedang sibuk membaca koran dan asyik menikmati kopinya di sofa.


Sesampainya di sofa, nenek tidak menemukan siapa-siapa di sana. Koran yang tadi dibaca oleh pemuda itu masih tergeletak rapi di atas meja. Namun, tidak ada gelas kopi di sana.


Nenek itu mengusap matanya. Mungkin aku lelah, pikirnya.


Nenek itu kemudian beranjak ke kamar. Dia membaringkan tubuhnya di atas di dipan miliknya. Nenek itu menutup matanya, mencoba untuk tidur.


Baru saja matanya terlelap, seorang anak kecil memanggilnya.


“Bu! Adek eek di celana lagi!” seru anak itu.


Nenek kemudian mencoba bangkit dari posisinya. Tubuhnya yang sudah tua membuat sendi-sendinya bergemeletuk. Meski meringis kesakitan, ia tetap berusaha bangkit.


Kedua anak kecil itu berada di sofa yang sama dengan tempat seorang pemuda tadi. 


Seorang anak perempuan yang tadi memanggilnya itu menunjuk-nunjuk adiknya yang hanya bisa menangis. Kotoran anak kecil itu berhamburan di mana-mana.


Baru saja nenek itu ingin membersihkannya, muncul seorang Wanita muda dari kamar yang sama tempatnya berbaring. Ia menatap wanita itu dengan seksama. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Nenek itu begitu terkejut. Seorang wanita tadi adalah dirinya ketika muda.


Nenek itu memegangi wajahnyanya yang sudah keriput. Jauh sekali perbedaannya dengan wajahnya ketika muda dulu. Ia mencoba menyentuh wanita itu, tapi tidak bisa. Sentuhannya hanya menembus tubuh wanita itu.


Nenek itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan berat. Ia akhirnya sadar. Apa yang terjadi di rumahnya malam itu, adalah jejak-jejak ingatan masa lalunya.


Nenek itu kemudian beranjak ke kursi goyangnya. Dari sana, ia menyaksikan jejak-jejak ingatan masa lalunya.


Tidak berselang lama, seorang pemuda yang sebelumnya memanggilnya datang menghampiri dirinya ketika muda yang sibuk mengurusi kedua anaknya. Pemuda itu adalah suaminya. Kemudian pemuda itu memeluknya, mencoba meringankan segala letih dan beban yang dirasakan wanita itu seharian.


Jejak-jejak ingatan itu kini beranjak. Kedua anak kecilnya itu sudah bersekolah. Nenek itu menyaksikan dirinya ketika muda yang sudah sibuk di pagi-pagi buta untuk menyiapkan bekal untuk kedua anaknya bersekolah.


Meski sudah bersusah payah menyiapkan bekal dan sarapan, kedua anaknya sering kali menolak untuk makan. Beberapa kali kedua anaknya bahkan sengaja tidak membawa bekal yang telah disiapkan olehnya. 


Nenek itu meneteskan air matanya.


Kemudian jejak-jejak ingatannya itu membawanya ke waktu saat suaminya berpulang. Suaminya sudah lama sakit, tapi kedua anaknya yang sudah beranjak remaja itu tidak mengetahuinya. Mereka baru tahu sesaat setelah ayah mereka dinyatakan berpulang.


Kedua anaknya menjadi begitu benci kepada dirinya. Mereka menyalahkan ibunya–nenek itu–atas kematian ayahnya. Mereka menyalahkan ibunya karena tidak cukup baik merawat ayahnya ketika sakit sehingga ia meninggal.


Lagi, nenek itu meneteskan air matanya.



Jejak-jejak ingatan kembali membawanya melintasi waktu. Kini kedua anaknya sudah tamat SMA. Kakaknya yang lebih dulu tamat memutuskan untuk menunggu adiknya tamat. Mereka ingin kuliah bersama di kota. Jauh dari tempat asal mereka.


Hingga hari itu tiba, kedua anaknya pamit kepada ibunya untuk pergi berkuliah. Dengan berat hati, dirinya melepaskan kedua anaknya pergi. Setelah kuliah anaknya tidak kunjung pulang, katanya mereka ingin mengadu nasib di kota, keuntungannya lebih meyakinkan daripada harus bekerja di desa. 


Kedua anaknya berjanji akan sering pulang ke kampung. Namun, beberapa tahun berlalu, kedua anaknya tidak kunjung pulang. Dirinya sering kali duduk di atas kursi goyang menghadap ke jendela untuk menunggui kedua anaknya itu pulang. Bertahun-tahun kedua anaknya juga tidak pernah tampak batang hidungnya. Berbagai alasan sudah dikatannya. Hingga akhirnya pandemi melanda dunia.


“Bu, kami tidak bisa pulang,” ucap seseorang di sambungan via telepon vidio.


Wanita paruh baya yang dipanggil ibu itu mengembuskan napasnya dengan berat. “Nggak papa, Nak. Ibu tahu, kok.”


“Maaf ya, Bu, karena pandemi gini jadi nggak bisa pulang lihat Ibu di kampung.”


“Nggak masalah, Nak. Kamu jaga kesehatan ya di sana,” ucapnya berpura-pura tegar.


Panggilan telepon dimatikan. Air matanya mengalir deras membasuhi pipinya.


Jejak-jejak ingatan itu berhenti. Menyisakan nenek itu yang duduk di kursi goyangnya. Hujan deras di luar seiras dengan air mata nenek itu yang juga ikut mengalir deras.


Air mata nenek itu perlahan mereda. Pipi nenek itu basah. Matanya sembab. Dirinya begitu kelelahan. Namun, tangannya mencoba meraih telepon miliknya yang berada di atas meja. Setelah memegangnya, dia kemudian melakukan panggilan telepon kepada anaknya.


Panggilan itu tidak kunjung diangkat. Perlahan, nenek itu menutup matanya. Anaknya akhirnya mengangkat panggilan itu pada dering yang kelima.


“Halo, bu? Tumben menelpon jam segini,” ucap sesorang di ujung telepon.


Namun tidak ada balasan. Hanya bunyi hujan yang terdengar. Tiba-tiba tangan nenek perlahan melemah. Telepon itu jatuh dari genggamannya dan hancur saat mengenai lantai. Panggilan terputus.


Fajar pun tiba. Hujan sudah berhenti. Sisa-sisa hujan semalam membuat seluruh perkampungan basah. Dari jalan, atap rumah, hingga dedaunan.


Semua warga sudah sibuk menjalani rutinitas pagi hari. Begitu juga dengan hewan ternak dan juga anjing-anjing liar, semuanya sudah kembali beraktivitas.


Namun, nenek paruh baya itu tidak lagi bangun. Ia telah pergi untuk selamanya. Panggilan tadi adalah panggilan terakhirnya.


Matahari pagi merambat masuk melalui jendela. Dia menyinari tubuh nenek yang sudah dingin itu. Sinar mentari itu seakan mengucapkan selamat tinggal untuk nenek.


Selamat jalan, Nek. Di sana Nenek tidak akan lagi merasa kesepian. Semoga Nenek tenang di sana."


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.