LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Edelweis Telah Gugur

 








Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu puisi dari peserta Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Net 24 Jam. Puisi ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Lembayung". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.lintang.or.id/2021/10/lomba-cipta-puisi-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati puisi di bawah ini:


 Edelweis Telah Gugur

Karya : Siska Indah Mahwani


Di dataran tinggi Dieng dapat kunikmati pulau Jawa dari ketinggian

Jas tebal mengenakan sapu tangan dengan ornamen bulu-bulu harapan

Selangkah demi selangkah kaki menanjak kearah puncak pegunungan

Tempat indah yang menghasilkan salju ditengah wilYh tropis

Terdengar mustahil tapi itu benar adanya

Sempat terdengar legenda tentang bunga yang langka 

Melambangkan keindahan cinta yang abadi 

Jelas aku tidak seberuntung mereka yang menemukan bunga itu

Yang konon katanga hanya dapat dijumpai pada seseorang yang mencari kekasih

Bahkan dapat bertahan hidup 10 tahun lamanya ujar para petuah

Juni selalu menyatakan musim semi di penjuru dunia

Menantikan bunga yang mekar diatas bebatuan berkasih

Namun sayang sepertinya awan tidak menyambutku dengan baik

Membawa gumpalan hitam tak lupa diiringi kilatan halilintar

Aku betegun menatap sekeliling dan menemukannya

Ternyata bunga itu telah gugur akibat suasana ketidakpastian





Konspirasi Metafora

Karya : Siska Indah Mahwani



Dikatakan pada bulan tentang sosok yang menyerupai bait dan sajak

Magis yang berkelanjutan menggilakan setiap arti pada aksara

Tuli menyesatkan nafsu yang bebas berkeliaran di alam semesta 

dirantai jeuji besi agar tak lagi memberontak seperti auman serigala

Sulit diartikan dengan kosakata berbahasa Sansekerta

Tapi peristiwa bersenandung paralel yang diangkat menjadi novel karya sastra

Bermula dari melodi tak berlirik berakhir dengan kalimat berdiksi purbakala

Petanyaan berpijar perak dan emas membuih dikalangan rakyat jelata

Senja seolah menolak bintang untuk menampilkan gambar antariksa

Pusaran hitam menghirup aroma tirakat di lintasan galaksi akara Bagaskara

Pitarah alam baka mewariskan payoda nirmala jagat raya

Konspirasi bertajuk relikui dibawah gubuk sampena rinai swastamita

Tandang beralas kaki senandika menuju umbu mangata nabastala

Merapah dengan pilau ditemani redum meraki mangkus bermartabat nayanika

Sekala pilon rimpuh berjalan dengan tongkat gelabah buatan kawi dayita dahayu

Korelasi metafora belungsang buana persistensi suar jamanika




Tuhan Benar

Karya : Siska Indah Mahwani


Yang kupikirkan sejak awal hanyalah perangai dunia 

Membuat setiap langkahku berambisi tak berarah 

Sekali lagi aku mempercayai manusia 

Meluapkan arogansi hanya sekedar meraih kesuksesan 

Malang betul nasib Tuan muda

Bersusah payah mengayuh sepeda tua 

Bersama rintihan hujan dicela pohon akasia

Menabung hingga bergelimang harta

Sampai tak terhitung lagi jumlah uangnya 

Tapi sayang ia menghina gadis desa

Berparas ayu diselimuti kain usang

Ternyata uang membeli sopan santunnya

Dan dasi juga menaikka sedikit kepalanya

Hidup yang sulit adalah ucapan selamat pagi dari Tuhan 

Membuatmu menangis adalah syair balasan cinta

Tuhan Benar membuatmu menderita agar harapanmu hanyalah-Dia





Suara Dari Neraka

Karya : Siska Indah Mahwani



Bergeming menggema bernuansa kilatan Amarah 

Sambaran petir diguyur derasnya hujan berdarah 

Seolah memberikan peringatan kepada umat manusia

Berperisai keserakahan berpedang tali kemaksiatan 

Teriakan itu akan mengoyak seluruh gendang telinga

Bahkan dapat memecahkan seluruh isi kepala

Jeritan dari makhluk yang berkhianat kepada Tuhannya

Menggadaikan akhirat untuk membeli kepuasan dunia

Siapa sangka tempat bernaung yang di-Agungkan hanyalah sementara

Kini panggilan itu menyebut satu-persatu Tuannya

Persetan dengan nafsu melelhkan perut penistaan

Yang berujar penuh Iman tapi licik berkelakuan 

Tuhan takkan pernah ingkar janji perihal takdir

Tapi Sombong adalah penghinaan menjijikan terhadap Tuhan

Khutbah dengan kemunafikan adalah siasat mengajarkan kesyirikan

Jelas saja Tuhan menghadiahkanmu Neraka Jahanam

Untuk menebus kesalahan yang kau anggap kebenaran




Novel Kanagara

Karya : Siska Indah Mahwani


Senyum lengkung menyambut suasana pagi 

Berkisah tentang alam yang berselimut awan putih 

Mentari memaparkan cahaya bias penuh makna

Berdesau bersama angin yang berhembus gemulai

Novel Kanagara yang bercerita tentang gadis sederhana

Berjalan dengan anggun berpakaian batik jawa

Ningtias namanya kembang desa yang begitu cantik

Sempat menggegerkan penduduk desa rupanya

Anak pertama yang tinggal dipinggir sungai beratapkan senja

Tidak hanya itu pemuda kota bahkan berniat mempersuntingnya

Seperti kisah pada umumnya benar saja

Gadis desa dan pemuda kota sama-sama jatuh cinta

Bumi seketika mndoakannya

Hingga pernikahan menyatukan hati mereka


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.