LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

Bukan Hadiah Terakhir Dari Ayah

 










Selamat datang di Lintang Indonesia. Di bawah ini adalah salah satu cerpen dari peserta Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional Net 24 Jam. Cerpen ini lolos seleksi pendaftaran dan dibukukan ke dalam buku yang berjudul,"Sebuah Cerita Tentang Kepergian". Klik link di bawah ini untuk informasi lomba: 

https://www.net24jam.com/2021/10/lomba-cipta-cerpen-tingkat-nasional-net.html


Selamat Menikmati Cerpen di bawah ini:


 "Bukan Hadiah Terakhir Dari Ayah



Lavina Eartha, gadis piatu yang sejak umur tujuh tahun ditinggal oleh ibu yang amat disayanginya. Kini dia tinggal bersama Samudra, ayahnya yang bekerja sebagai CEO di perusahaan ternama dibidang jasa. Hal itu membuat ayahnya jarang mempunyai waktu untuk putrinya. Lavina  merasa kesepian walaupun semua yang ia mau selalu dikabulkan ayahnya, bagi Lavina, ayahnya selalu tau apa saja yang ia inginkan. Kecuali waktu bermain bersamanya yang sangat jarang ia rasakan sejak mamanya meninggal.


Seiring waktu Lavina tumbuh menjadi gadis manja dan semaunya, apa yang ia inginkan haruslah dituruti. Sekarang Lavina sudah menginjak usia ke-22 tahun, tepat hari ini ia di wisuda, ya, dia memang melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi negeri atas perintah ayahnya. Lavina duduk bersama teman-temannya sambil celingak-celinguk mencari keberadaan ayahnya, Sam. “Apa ayah juga akan menyia-nyiakan waktu berharga seperti ini”, gumam Lavina. Ia  sudah kepalang kesal karna di hari wisuda ayahnya tak juga muncul menemani putri kesayangannya itu. Lalu, saat Lavina keluar dari gedung, tampak dari kejauhan ayahnya baru saja keluar dari mobilnya dengan tergesa. Ia menghampiri Lavina dengan senyum manis, “maaf ya tuan putri ayah, tadi ada meeting dengan kolega yang tidak bisa diwakilkan”, ucap Sam. Dan itu adalah alasan yang sama seperti sebelum-sebelumnya Lavina dengar. 


Seperti yang Lavina tahu, Sam selalu memberi apa yang mau dan selalu tau apa yang putrinya inginkan. Maka dari itu, Lavina menduga ayahnya akan memberinya hadiah sebuah kunci mobil, ya Lavina memang sangat ingin mempunyai mobil keluaran terbaru yang launching bulan ini dan ia yakin ayahnya sudah tau itu. Benar saja, ayahnya mengambil sesuatu dari balik jasnya, “ini untuk tuan putri ayah dari malaikatmu sa…”, ucap ayahnya terhenti karena Lavina langsung mengambil dan melempar jaket rajut berwarna pink pastel itu ke tanah. Lavina bahkan tidak peduli dengan wajah kaget ayahnya yang langsung berubah sendu melihat jaket itu. Mau bagaimana lagi, Lavina sangat kesal dimulai dari ayahnya yang terlambat menghadiri wisudanya, dan ayahnya yang baru kali ini tidak mengerti apa yang ia mau. Dengan diselimuti amarah Lavina pergi meninggalkan ayahnya yang termenung meratapi kepergian Lavina.



Sam tak menyangka , putri semata wayang yang begitu ia sayangi, putrinya yang malang karena ditinggal pergi oleh ibunya, anak perempuan yang ia perlakukan seperti tuan putri agar ia bisa bahagia walau tanpa sosok ibu disampingnya. Ya, sejak kejadian di hari wisuda itu Lavina telah menghancurkan hati ayahnya, dengan tega dia membuang jaket rajut yang dibuat sendiri oleh mendiang ibunya sebagai hadiah untuk Lavina ketika dewasa. Namun walaupun begitu, naluri seorang ayah akan tetap mencari putrinya walau dia sendiri yang pergi atas kemauannya, Sam tau putrinya pergi juga karena salahnya. Sam menyuruh anak buahnya mencari tuan putrinya, namun setelah berhari-hari tak juga ditemukan tanda-tanda keberadaan Lavina, dia hilang bak ditelan bumi. Seiring dengan tangis Sam yang tak kunjung berhenti.


Setahun kemudian, ketika Sam dinas ke luarkota, takdir mempertemukan seorang ayah dengan putrinya. Ya, Sam bertemu dengan Lavina. Raut wajah yang rindu tak lepas dari wajah Ayahnya. Sam menghampiri Lavina yang terpatung di tempat menatap ayahnya. “Nak, bagaimana kabarmu? ayah sangat rindu padamu, lupakan hal kemarin, mari pulang dengan ayah, ada yang ingin ayah tunjukkan padamu”, ucap Sam sambil menahan tangis “Aku tidak mau ayah, ayah telah menghancurkan kepercayaanku, ayah hanyalah seorang ayah yang memberi materi saja, aku juga ingin memiliki waktu bersama ayah, sudahlah ayah aku sudah mempunyai kehidupan disini tak usah pikirkan aku”, jawab Lavina dengan cepat. Ia lalu pergi dari hadapan Sam, membuatnya sekali lagi termenung atas kepergian putrinya. Setelah Sam sampai dirumah, manik matanya tak sengaja melihat garasi, lebih tepatnya sebuah benda yang tertutupi oleh kain yang sudah mulai berdebu, ia memang sengaja melarang Mang Indro, tukang kebun di rumahnya untuk membersihkan kain yang sudah berdebu itu, baginya itu adalah tanda yang akan mengingatkan seseorang tentang arti pemberian. 


Usia Sam sekarang sudah menginjak kepala enam, tepat sepuluh tahun yang lalu ia mulai hidup dengan kesepian setelah ditinggal putri kesayangannya. Seminggu kemudian di suatu pagi Sam merasa tidak enak badan, perut dan dadanya sakit sekali. Mang Indro dengan segera memanggilkan dokter untuk majikannya itu. Dokter berkata bahwa Sam menderita asam lambung akut, Sam tersenyum pahit karena sudah menduga hal itu. Sejak Lavina pergi nafsu makannya entah kenapa juga ikut lenyap, ia juga sering meminum kopi saat perutnya masih kosong. Semangat hidupnya hilang karena ditinggalkan dua orang yang amat ia cintai. Semakin hari keaadaannya semakin memburuk, ia tidak mau makan dan harus mendapat infuse karena hal itu. Tiba-tiba saat ia tidur, Sam berhalusinasi bahwa istrinya datang dan tersenyum padanya lalu mengajaknya pergi ke tempat yang disekeliling bernuansa putih. Sam terbangun dan merasakan tubuhnya sakit sekali. Ia  merasa bahwa ini adalah waktunya  bertemu dengan istrinya, namun ia juga bersedih karena putrinya, Lavina tidak ada disampingnya di saat terakhir. 


Tak tau kenapa, sejak malam hati Lavina rasanya kalut, khawatir dan cemas. Lavina merasa sedih sekali tapi tak tau apa alasannya. Tiba-tiba ia merasa rindu sekali dengan ayahnya. Tidak dapat kupungkiri sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang Lavina tetap saja teringat akan ayahnya dan memikirkan bagaimana kabarnya sekarang. Ia  sangat ingin pulang dan menjenguk ayahnya, Sam yang seminggu lalu menginjak usia enam puluh tahun. Namun, apalah daya ia gengsi dan malu atas apa yang ia perbuat dulu. Pagi harinya perasaan kalut dan khawatirnya malah bertambah juga perasaan yang tidak enak terhadap sang ayah. Lavina nekat pulang kerumah ayahnya tanpa berniat mengabarinya dulu agar menjadi kejutan untuk ayahnya. 


Sesampainya disana Lavina bagai disambar petir melihat karangan bunga berjejeran bertuliskan ucapan belasungkawa atas kepergian ayahnya, dunia Lavina hancur seketika. Ia langsung lari menuju rumah dan langsung terkesiap melihat jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku. Laki-laki gagah yang kulitnya sedikit keriput namun tak mengurangi betapa tampan dan teduh wajahnya sama seperti sepuluh tahun silam. Namun sekarang, sosok tersebut hanyalah raga, nyawanya sudah kembali kepada Sang Pencipta. Begitu cepat waktu terasa hingga ketika putri tercintanya pulang untuk menemui Sam tapi ia sudah tiada tanpa Lavina yang menemani disaat terakhirnya, hati Lavina teriris kala mengingatnya. Ia menangis karena tak sempat melihat ayahnya bertemu dengan suami dan anak-anaknya, Lavina merasa begitu jahat karena telah memisahkan kakek dengan cucunya. Lavina tak sempat melihat ayahnya bermain bersama anaknya di taman rumah, Lavina telah merenggut harapan Sam dengan pergi meninggalkannya sendirian.


Setelah selesai mengikuti prosesi pemakaman ayahnya, Lavina masuk kamar Sam sekedar ingin merasakan kenangan disana. Saat membuka lemari ia tak sengaja menemukan jaket rajut yang ayahnya berikan saat wisuda dulu yang Lavina anggap sebagai hadiah terakhir dari ayah. Ia membuka jaket tersebut lalu sebuah kertas jatuh ke lantai, Lavina mengambilnya, ternyata terdapat tulisan di kertas itu. “Nak, selamat atas pencapaianmu, ayah tak menyangka gadis kecil ayah sudah bertumbuh dewasa, ayah harap kamu bisa jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Ibumu pasti tersenyum sekarang melihatmu. Ya , ini adalah jaket yang di rajut ibumu dan sengaja disimpan ibumu sebagai hadiah saat kau dewasa nanti. Dan ayah merasa ini akan jadi hadiah paling berkesan karena kau akan merasa ibumu hadir di hari kelulusanmu. Bahagia selalu ya nak”. Hati Lavina tercabik membaca surat tersebut, air matanya mengalir deras mengingat betapa kejamnya ia membuang jaket rajut itu yang ternyata dibuat penuh cinta oleh mendiang ibunya. Sambil sesenggukan Lavina menelusuri lemari ayahnya lagi, ia kaget saat membuka laci kecil di lemari karena di dalamnya ada sebuah kunci yang dibungkus kotak kecil bening, diatasnya ada pita dan kartu yang menempel. Lavina merasa penasaran, lalu membaca kartu tersebut “lihat di garasi ada hadiah manis untuk tuan putri ayah yang manis”. 


Lavina lalu bergegas menuju garasi untuk melihat apa yang ada disana, sesampaimya disanaia melihat sesuatu yang ditutupi oleh kain yang sudah berdebu. Lavina berdebar kala akan membukanya, sekali lagi hatinya merasa sesak dan teriris melihat benda dibalik kain itu. Sebuah mobil yang Lavina inginkan sepuluh tahun lalu terparkir rapi di garasi. Ia  menangis sambil memegang jaket hadiah ayahnya yang sedari tadi ia pegang erat, ternyata ayahnya memang selalu tau apa yang ia inginkan. Dan ia adalah anak yang tak pernah mengerti orang tuanya. Lavina terus menagis sesenggukan merasakan penyesalan tanpa henti. “Ayah, ternyata jaket ini bukan hadiah terakhir darimu”.



-THE END-


-Rahma Hanifa-

Trenggalek, 14 Oktober 2021



"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.