LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL @LOMBAPUISI X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 30 SEPTEMBER 2021

LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL @LOMBATERBARU X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 01 OKTOBER 2021

PUISI REMUKAN KOSAKATA


Selamat datang kembali di Lintang Indonesia, ini adalah puisi salah satu peserta Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Lombaterbaru x infolombapuisi Deadline 1 Oktober. Puisi ini salah satu dari sekian banyak puisi yang dibukukan ke dalam buku yang berjudul, "Fantasy".

Untuk informasi lengkap lomba ini silakan klik di sini

Cover Buku Fantasy


Selamat menikmati puisi di bawah ini:



 "REMUKAN KOSAKATA 


Ilalang yang bersenda gurau dengan tangkai yang mulai ringkih

Tak begitu pedih dibandingkan disaat penguasa bercanda perihal bantuan sosial kepada rakyatnya

Hahaha cuma berbual saja

Tujuannya untuk membuat hati kian harsa

tapi buntutnya hanya sebuah kosa kata yang berakhir wacana

Trilyunan uang yang sifatnya semu

Membuat hati kian kelu

Dipermainkan sudah tak tabu

Disepelekan sudah terlalu sering

Disebelahmatakan sudah terlalu basi

Jikalau aku bisa berpangku tangan pada rembulan

Aku lebih memilih dia

Karena ia memberikan keindahan yang nyata

Dibandingkan dengan berbuih-buih seribu macam kosa kata yang tak bermakna

Lestari Sastra, 2 Agustus 2021



BUIKU TERBUNGKAM


Ketika semuanya dibungkam

Otak serasa tak ingin diam

Seperti seonggok pinta yang mulai mencair

Tak akan ada celah jika hanya selalu difikir

Demi kenikmatan yang hanya hitungan detik

Manusia bringas menginginkan kenikmatan yang tak terhingga

Alam yang sengaja dikoyak secara perlahan-lahan

Paru-paru dunia seakan dikotori oleh tangan-tangan penuh liuran dosa

Diringkus digerus berlagak tak punya dosa

Dia berkata ini demi kesejahteraan masyarakat

Busuk!!!

Itu bukan kesejahteraan

Tapi awal dari kemelaratan

Lestari Sastra, 4 Agustus 2021




BANTU AKU UNTUK MENYULAM DI DERETAN SEPI


Apa kau ingin hidup seperti silaunya cahaya itu?

Terang, namun menyilaukan

Apa kau ingin menyambung seutas nyawa seperti jam dinding itu

Menawan, tapi jarum itu selalu menghentakkan dentuman

Dan apa kau ingin menyulam buanamu bak dinding itu

Kokoh, namun terkadang menciptakan keringkihan


Tak pelak, sunyi tercipta pada keabsahan tawa

Tak jarang, rindu tercipta pada keasingan cinta

seolah riuh namun meninggalkan sengsara

Kalau insan itu tak pernah jeli dengan teka-teki yang penuh dengan candaan dan deraian air mata

Lestari Sastra, 6 Agustus 2021



"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.