LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL @LOMBATERUPDATE X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 14 OKTOBER 2021

LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL @LOMBAPUISI X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 30 SEPTEMBER 2021

LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL @LOMBATERBARU X @INFOLOMBAPUISI DEADLINE 01 OKTOBER 2021

Mengeja Bayang

 


Selamat datang kembali di Lintang Indonesia, ini adalah puisi salah satu peserta Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional Lombaterbaru x infolombapuisi Deadline 1 Oktober. Puisi ini salah satu dari sekian banyak puisi yang dibukukan ke dalam buku yang berjudul, "Fantasy".

Untuk informasi lengkap lomba ini silakan klik di sini

Cover Buku Fantasy


Selamat menikmati puisi di bawah ini:



Mengeja Bayang


Di sela-sela lamunan, pantulan gagah rupawan menyeruak tanda meminta perhatian. Meski di kenyataan, itu hanya sebatas anganku bercampur sedu lagi sedan. Kau selalu datang memenuhi undangan yang dikirim angin malam. Kau selalu datang memenuhi isyarat cantik para gemintang. Aku jatuh cinta, tuan.


Igauan malam tak kuperdulikan. Melihat kau berjalan yang nyatanya tak berdampingan. Kutatap anila yang memantulkan suara pada tebing pembatas antara kita; membicarakan sosokmu yang ternyata hanya akara dalam genggamanku saja. Renjana milikku tak akan temaram, walau kuharus telan kenyataan— aku mencintaimu terlalu dalam.


Jutaan daksa di luar sana gencar hentikan debar dalam dada. Melontarkan diksi-diksi tak bermakna, demi membuat sosokmu mati tak bernyawa. Di antara diksi mereka, aku menemukanmu terasing dalam hening. Di antara diksi mereka, aku menemukanmu terbuang kian usang. Untuk apa berlaku demikian, di saat bayangmu saja paling berkilau di ruang gelap tak bercahaya. Pun di saat bayangmulah yang paling terang menyingkap kelam.


Siluet pagi bagaskara menelusup lewat jendela memberitahuku jawaban atas semua tanya. Tentang sajak yang hampir kehilangan makna, tentang aku yang hampir gagal menemukanmu dalam ribuan atma. Tapi intuisi berhasil menuntunku kembali pada bayanganmu yang sederhana, dari mereka yang gagal menyembunyikanmu dalam bisingnya suara kota. Karena aku tahu, kau sebenarnya terlampau sederhana untuk kuterka.


Hingga kembali raga tersadar, tokoh utama dalam lamunanku kini berpendar; samar. Kembali menjadi bayang dalam angan-anganku seorang. Kini yang dapat kulakukan adalah terus menuliskan tentangmu agar jejakmu tetap abadi, tak perduli orang berkata bahwa kau yang tak menoleh sama sekali.


Salam, 

dari aku yang keras kepala; hanya dalam perihal mencintaimu saja. Semoga kau lekas menjadi nyata.


"


Previous
Next Post »

EmoticonEmoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.